|
Nasional
Jalan Panjang Pergantian Panglima TNI
Rabu, 03 November 2004 | 16:06 WIB
Polemik pergantian Panglima TNI masih terus berlangsung meski Jenderal Endriartono Sutarto menegaskan dirinya masih menjabat panglima. Polemik ini diawali surat yang ia kirim kepada Presiden Megawati tapi dicabut oleh Presiden Yudhoyono. Berikut ini kronologi masalahnya.
24 September 2004
Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto mengirim surat kepada Presiden Megawati mengusulkan pergantian Panglima TNI untuk regenerasi di tubuh TNI.
2 Oktober 2004
Presiden Megawati mengirim surat persetujuan pengunduran diri Panglima TNI kepada DPR dan menunjuk Ryamizard Ryacudu sebagai penggantinya.
14 Oktober 2004
Komisi Pertahanan membahas surat dari Presiden Megawati.
25 Oktober 2004
Presiden Yudhoyono menarik surat presiden nomor R32/Pres/10/2004 tentang persetujuan pengunduran diri Sutarto.
27 Oktober 2004
Anggota DPR yang dimotori Koalisi Kebangsaan mengusulkan hak interpelasi kepada Presiden.
28 Oktober 2004
Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto menegaskan akan menunggu keputusan Presiden dan bukan keputusan DPR.
Dua puluh anggota Komisi Pertahanan DPR mengajukan pengumpulan tanda tangan untuk hak interpelasi.
29 Oktober 2004
Ketua DPR Agung Laksono mengatakan Presiden Yudhoyono mungkin tetap mengajukan Jenderal Ryamizard sebagai Panglima TNI
30 Oktober 2004
Ketua DPR Agung Laksono menegaskan DPR akan memprioritaskan pembahasan surat Megawati yang menyetujui pengunduran diri Sutarto.
1 November 2004
Jenderal Sutarto menegaskan komposisi jabatan di lingkungan TNI tidak berubah. Ketua Komisi I Theo L. Sambuaga menyatakan Panglima TNI masih Jenderal Endriartono Sutarto dan meralat pernyataan politikus Partai Kebangkitan Bangsa Effendy Choirie.
4 November 2004
Komisi Pertahanan DPR rencananya akan memanggil Jenderal Ryamizard Ryacudu untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan menjadi Panglima TNI.
Sumber: Koran Tempo
|