Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Nasional  
  Ekonomi&Bisnis  
  Nusa  
  Jakarta  
  Olahraga  
  Indikator
  Infografis
  Opini Koran  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
English
 
   

Pekan Olahraga yang Sepi
Kamis, 10 Juli 2008 | 03:10 WIB

Mestinya berjuta pasang mata sekarang ini tertuju pada Pekan Olahraga Nasional XVII, yang digelar di Kalimantan Timur sejak sepekan lalu. Tapi aksi yang melibatkan 11.299 atlet dari 33 provinsi itu ternyata tak banyak dilirik orang.

Sungguh menyedihkan, pesta olahraga terbesar di Indonesia itu kehilangan geregetnya. Stasiun-stasiun TV swasta nasional tak ada yang menyiarkan secara langsung PON yang berlangsung dari 6 hingga 18 Juli 2008 itu. Perhelatan ini malah kalah oleh audisi idola-idola dadakan yang menghiasi berbagai TV sepanjang malam. Padahal acara semacam itu sebenarnya cuma melahirkan bintang-bintang kelas kampung. Bandingkan dengan PON, yang mengusung atlet-atlet bertaraf nasional.

Yang bertanggung jawab soal hambarnya PON tentu saja Komite Olahraga Nasional Indonesia dan panitia lokal, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Mereka gagal mengemas pemasaran PON. Bandingkan dengan Piala Eropa, yang gebyarnya sudah terdengar berbulan-bulan sebelum ajang itu digelar.

Kinerja panitia yang buruk sudah terlihat sejak awal tahun ini. PON yang mestinya berlangsung Maret 2008 mereka undur menjadi Juli 2008. Pelaksanaannya pun kurang lancar gara-gara listrik sering mati dan fasilitas minim. Ketidaksiapan seperti ini mestinya tak boleh terjadi, karena Kalimantan Timur sudah ditunjuk menjadi tuan rumah perhelatan ini sejak 2002. Lagi pula mereka telah menghabiskan dana miliaran rupiah untuk menggelar acara tersebut.

Berkaca dari kejadian itu, KONI perlu merombak total manajemen penyelenggaraan pesta olahraga nasional. Tak ada salahnya kita mencontoh negara-negara yang sudah maju, seperti Austria dan Swiss, yang bisa mengemas Piala Eropa 2008 yang spektakuler.

KONI mestinya juga bisa menyewa tenaga-tenaga profesional, sehingga pekan olahraga ini bisa dikemas menarik. Lihat saja bagaimana panitia Thomas dan Uber mengemas acara itu menjadi tontonan yang "hidup" karena mereka mengajak artis-artis menonton langsung di tepi lapangan. Hal serupa juga terjadi pada Piala Asia lalu, yang berhasil membangkitkan kebanggaan pada tim sepak bola nasional. Beberapa cabang olahraga PON mestinya bisa dibikin semenarik itu.

Jika KONI gagal membuat pesta olahraga nasional menjadi semarak, sulit berharap lembaga itu bisa membuat prestasi atlet kita kembali berkibar. Sebab, dalam olahraga, kompetisi dan prestasi kerap berjalan seiring. Kompetisi maju, prestasi biasanya juga maju.

Tak usah heran bila dalam sepuluh tahun terakhir prestasi atlet-atlet kita melempem. Soalnya, kompetisi di negeri ini, seperti PON, juga tak lagi melahirkan "demam" berolahraga seperti dulu-dulu. Tujuan PON melahirkan bibit-bibit atlet baru pun semakin jauh dari harapan.

Kini banyak atlet seperti kehilangan gairah berprestasi. Untuk menjadi juara umum SEA Games saja, kita sulit mencapainya. Thailand dan Singapura sudah melesat meninggalkan Indonesia. Bahkan prestasi kita kini di bawah prestasi negara-negara yang dulu pernah menjadi murid kita, seperti Malaysia dan Vietnam.

Mestinya kita segera bangkit kembali. Jangan biarkan kebanggaan terhadap atlet nasional semakin jadi barang langka.


 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] opk136407 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Siaga Lebaran, Polres Cianjur Terjunkan 1.096 Personel
Hamka Yandhu dan Anthony Diancam 20 Tahun Penjara
Pemerintah Diminta Segera Antisipasi Kenaikan Harga
Perbandingan kampanye Obama – McCain Soal Pajak
Desain Terminal Bandara Depati Amir Selesai Oktober

<< July,2008>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data