Mestinya berjuta pasang mata sekarang ini tertuju pada Pekan Olahraga Nasional XVII, yang digelar di Kalimantan Timur sejak sepekan lalu. Tapi aksi yang melibatkan 11.299 atlet dari 33 provinsi itu ternyata tak banyak dilirik orang.
Sungguh menyedihkan, pesta olahraga terbesar di Indonesia itu kehilangan geregetnya. Stasiun-stasiun TV swasta nasional tak ada yang menyiarkan secara langsung PON yang berlangsung dari 6 hingga 18 Juli 2008 itu. Perhelatan ini malah kalah oleh audisi idola-idola dadakan yang menghiasi berbagai TV sepanjang malam. Padahal acara semacam itu sebenarnya cuma melahirkan bintang-bintang kelas kampung. Bandingkan dengan PON, yang mengusung atlet-atlet bertaraf nasional.
Yang bertanggung jawab soal hambarnya PON tentu saja Komite Olahraga Nasional Indonesia dan panitia lokal, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Mereka gagal mengemas pemasaran PON. Bandingkan dengan Piala Eropa, yang gebyarnya sudah terdengar berbulan-bulan sebelum ajang itu digelar.
Kinerja panitia yang buruk sudah terlihat sejak awal tahun ini. PON yang mestinya berlangsung Maret 2008 mereka undur menjadi Juli 2008. Pelaksanaannya pun kurang lancar gara-gara listrik sering mati dan fasilitas minim. Ketidaksiapan seperti ini mestinya tak boleh terjadi, karena Kalimantan Timur sudah ditunjuk menjadi tuan rumah perhelatan ini sejak 2002. Lagi pula mereka telah menghabiskan dana miliaran rupiah untuk menggelar acara tersebut.
Berkaca dari kejadian itu, KONI perlu merombak total manajemen penyelenggaraan pesta olahraga nasional. Tak ada salahnya kita mencontoh negara-negara yang sudah maju, seperti Austria dan Swiss, yang bisa mengemas Piala Eropa 2008 yang spektakuler.
KONI mestinya juga bisa menyewa tenaga-tenaga profesional, sehingga pekan olahraga ini bisa dikemas menarik. Lihat saja bagaimana panitia Thomas dan Uber mengemas acara itu menjadi tontonan yang "hidup" karena mereka mengajak artis-artis menonton langsung di tepi lapangan. Hal serupa juga terjadi pada Piala Asia lalu, yang berhasil membangkitkan kebanggaan pada tim sepak bola nasional. Beberapa cabang olahraga PON mestinya bisa dibikin semenarik itu.
Jika KONI gagal membuat pesta olahraga nasional menjadi semarak, sulit berharap lembaga itu bisa membuat prestasi atlet kita kembali berkibar. Sebab, dalam olahraga, kompetisi dan prestasi kerap berjalan seiring. Kompetisi maju, prestasi biasanya juga maju.
Tak usah heran bila dalam sepuluh tahun terakhir prestasi atlet-atlet kita melempem. Soalnya, kompetisi di negeri ini, seperti PON, juga tak lagi melahirkan "demam" berolahraga seperti dulu-dulu. Tujuan PON melahirkan bibit-bibit atlet baru pun semakin jauh dari harapan.
Kini banyak atlet seperti kehilangan gairah berprestasi. Untuk menjadi juara umum SEA Games saja, kita sulit mencapainya. Thailand dan Singapura sudah melesat meninggalkan Indonesia. Bahkan prestasi kita kini di bawah prestasi negara-negara yang dulu pernah menjadi murid kita, seperti Malaysia dan Vietnam.
Mestinya kita segera bangkit kembali. Jangan biarkan kebanggaan terhadap atlet nasional semakin jadi barang langka.