Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Nasional  
  Ekonomi&Bisnis  
  Nusa  
  Jakarta  
  Olahraga  
  Indikator
  Infografis
  Opini  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
English
 
   

Tugas Berat Boediono
Senin, 14 Juli 2008 | 03:30 WIB

GUBERNUR Bank Indonesia yang baru, Boediono, konon bertanya kepada seorang mantan pejabat tinggi bank sentral: dari mana pembenahan Bank Indonesia harus dimulai? Tak begitu penting untuk tahu jawaban sang mantan. Tapi, kalau ia jujur, tentu Boediono diberi saran untuk meletakkan pemberantasan korupsi di peringkat pertama rencana kerjanya.

Predikat ”sarang penyamun” yang disandang bank di Kebon Sirih, Jakarta, itu belum lagi lepas. Bahkan belakangan citranya kian robat-rabit oleh kasus aliran dana ke Dewan Perwakilan Rakyat. Puncak skandal itu terbongkar, apa boleh buat, persis ketika Boediono memimpin. Sebuah tantangan tak gampang untuk pejabat yang selama ini dikenal bersih itu.

Tapi pembersihan merupakan keharusan. Skandal itu diduga sudah menyeret begitu banyak pejabat penting: mulai dari bekas gubernur, direktur, pejabat menengah, dan bukan tak mungkin menjalar sampai tingkat bawah. Dua kasus yang menjerat Bank Indonesia—dana bantuan hukum kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia dan amendemen Undang-Undang Bank Indonesia—diperkirakan menyangkut jumlah Rp 127,5 miliar. Untuk mengeluarkan uang sebanyak itu tentu diperlukan otoritas yang cukup besar, yang tentunya hanya dimiliki pejabat tingkat atas.

Patut diduga, pejabat tingkat atas yang disangka terlibat bukan hanya bekas gubernur Burhanuddin Abdullah, eks kepala biro Rusli Simandjuntak, dan mantan deputi direktur Oey Hoey Tiong. Masih ada pejabat lain yang diduga terlibat, di luar tiga pejabat bank sentral yang sudah dijadikan tersangka dan ditahan itu.

Indikasi tentang keterlibatan pejabat lain di bank sentral datang dari Komisi Pemberantasan Korupsi—yang patut dipuji karena berhasil menguak kasus yang lama ter­simpan itu. Komisi telah menerima uang pengemba­lian Rp 4 miliar yang disetorkan pejabat di luar tiga tersangka tadi. Barangkali sang pejabat, atau mungkin bebe­rapa pejabat itu, berniat baik. Tapi bukan tak mungkin dia, atau mereka, merupakan bagian dari aksi patgulipat yang tercela di ”gudang uang” itu.

Kalau benar yang didakwakan jaksa kepada tersangka, kita akan tahu betapa canggihnya permainan dilakukan. Uang yang disangka hasil korupsi dipakai untuk menyo­gok. Orang-orang terhormat, cerdik pandai, dan sangat ber­kuasa menentukan jalannya kegiatan moneter kita, merencanakan semua perbuatan buruk itu dengan sangat rapi. Pemakaian dana Yayasan Pengembangan Perbank­an Indonesia serta dana Bank Indonesia sendiri diputuskan bersama, begitu juga ke mana dana itu akan dialirkan. Keputusan tentang siapa pejabat Bank Indonesia yang mengontak anggota Dewan Perwakilan Rakyat juga diputuskan sejumlah pejabat bank itu. Rasanya janggal kalau yang memutuskan tidak tahu ada acara ”bagi-bagi duit” untuk sejumlah anggota Dewan.

Dalam hal bantuan hukum untuk lima mantan gubernur dan deputi serta direksi bank sentral yang terlibat ka­sus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, juga sangat terasa ada yang janggal. Misalnya jumlah uang yang diku­curkan Bank Indonesia jauh melampaui permintaan pa­­ra tersangka Bantuan Likuiditas itu. Laporan Badan Pe­merik­sa Keuangan, November 2006, mengungkapkan se­cara total dana bantuan hukum dari Bank Indonesia dan Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia lebih dari Rp 95 miliar, sedangkan para pengacara hanya menerima Rp 27,7 miliar.

Selisih cukup besar itu, juga dalam kasus aliran dana ke Dewan Perwakilan Rakyat, menunjukkan belum semua­ hal terang-benderang dalam kasus ini. Mereka yang dikira­ tersangkut masih berdiam diri di gedung yang megah itu.

Jadi, dari mana Boediono harus mulai bekerja? Jelas jawabannya: bersihkan bank sentral dari mereka yang tercela.


 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] opi127693 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< July,2008>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data