Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Nasional  
  Ekonomi&Bisnis  
  Nusa  
  Jakarta  
  Olahraga  
  Indikator
  Infografis
  Opini  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
English
 
   

Ada Gula, Ada Kencana
Senin, 23 Juni 2008 | 03:30 WIB

MENCAPAI swasembada gula adalah kebijakan yang tepat. Tapi, jika pemerintah tidak cermat, usaha mencukupi sendiri kebutuhan gula ini bisa berujung pahit. Ini pesan yang perlu diperhatikan Kementerian Badan Usaha Milik Negara, yang dua pekan lalu menyerahkan pengelolaan pabrik gula di Ngadirejo, Kediri, Jawa Timur, kepada PT Kencana Gula Manis. Memakai sistem kerja sama operasi selama 25 tahun, Kencana berjanji melipatduakan produksi gula Nga­direjo. Dengan kerja sama itu, mulai 2009 Indonesia tak perlu lagi mengimpor gula.

Banyak keuntungan bisa diraih. Gula di masa depan akan menjadi salah satu komoditas penting. Alasannya, pertumbuhan konsumsi gula dunia meningkat lebih cepat daripada produksinya. Tebu akan menjadi salah satu ener­gi alternatif karena bisa diolah menjadi bioetanol.

Ketika harga minyak bumi melambung, mau tak mau du­nia berpaling pada energi terbarukan—kebanyakan bersumber dari kelapa sawit, jarak, tebu, atau jagung. Akibatnya sudah terasa, harga bahan pangan itu melonjak tajam. Sebagian karena konsumsi meningkat, sebagian lagi lantaran dipakai sebagai energi alternatif. Suplai bahan pangan itu juga menurun lantaran lahan pertanian untuk memproduksinya semakin sempit.

Dalam situasi seperti itu, mencukupi konsumsi gula dengan produksi dalam negeri banyak manfaatnya. Kerepotan pemerintah mengatur harga minyak goreng dan kedelai yang melonjak-lonjak bisa dipetik sebagai pelajaran berharga. Mumpung pasar gula belum serumit sawit, pemerintah perlu membenahi sektor perkebunan tebu dan industri gula. Secepatnya Indonesia perlu tidak bergantung pada impor. Caranya, lahan tebu diperluas, dengan benih dan pola tanam yang baik. Produktivitas industri gula mesti ditingkatkan.

Memang tidak mudah. Lebih dari separuh mesin pabrik gula sudah uzur. Untuk menggantinya dibutuhkan inves­tasi paling tidak Rp 9,7 triliun. Pemerintah jelas tidak pu­nya uang. Karena itu swasta diajak ikut. Kerja sama ope­rasi merupakan bentuk paling ideal, mengingat berbagai kerumitan bisa diatasi. Misalnya jika pemerintah berniat men­jual pabrik ke pihak swasta atau melego lewat bursa saham.

Jelas, kunci keberhasilan kerja sama itu adalah kemampuan mitra kerja pemerintah. Kencana Gula Manis selama ini lebih dikenal sebagai trader ketimbang produsen. Kencana tidak memiliki pabrik gula, juga tak berpenga­laman dalam industri gula. Rekam jejak mitra dalam indus­tri ini penting karena akan menentukan tingkat keberhasilan kerja sama.

Kapasitas perusahaan mitra pemerintah dalam menyediakan dana atau mendapatkan modal kerja juga menjadi pertimbangan utama. Pemerintah tak boleh terjerumus bekerja sama dengan perusahaan abal-abal yang cuma lihai mengutak-atik peluang.

Pernyataan ini bukan untuk menyudutkan Kencana. Perusahaan itu, bagaimanapun, perlu diberi kesempat­an­ memenuhi target dan janjinya. Tapi tak ada salahnya­ pemerintah memasang rambu-rambu yang bisa meng­amankan kepentingannya dalam perjanjian kerja sama.

Pengalaman buruk proyek listrik swasta semogalah tidak­ berulang. Ketika itu, bukan tambahan pasokan daya yang didapat, melainkan denda ratusan juta dolar. Siapa la­gi yang menanggung kerugian ini kalau bukan rakyat­ yang membayar pajak. Di industri gula, jangan sampai mak­sud hati mengejar swasembada, apa daya mala menimpa.


 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] opi127500 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Gratis BBM Setahun dari Chevrolet
Adu Mahir Observasi Bintang
Toyota Turunkan Target 2009
Polisi Jawa Barat Ingatkan Pelaku Pembajakan
Ketinggian Pohon Punya Batas

<< June,2008>>
MSnSl RK JS
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data