|
Jerman Tantang Brasil di Semifinal Piala Konfed
Jum'at, 24 Juni 2005 | 21:00 WIB
TEMPO Interaktif, Nuremberg: Adu fisik melawan teknik. Itulah salah satu kemungkinan yang terjadi dalam pertarungan Jerman melawan Brasil Sabtu (25/6) ini. Prediksi itu didukung sejarah penampilan kedua tim di berbagai kejuaraan internasional sampai final Piala Dunia 2002, ketika Brasil menang 2-0 atas Jerman di Stadion Yokohama, Jepang.
Jerman mengusung speed and power game dengan kekuatan fisiknya dan Brasil dengan talenta kualitas teknik yang terkenal dengan julukan "tarian Samba".
Empat tahun lalu itu, untuk sebagian orang, permainan Jerman tidak enak ditonton dengan umpan-umpan langsung ke mulut gawang lawan yang sudah ditunggu para penyerangnya yang tinggi besar dan mengandalkan benturan badan untuk merebut bola dari lawan. Tapi, dengan cara itulah, plus soliditas tim, mereka mencapai final sebelum para "seniman" Brasil mempecundangi mereka.
Hari ini bisa saja pertemuan dua gaya sepak bola tersebut terjadi lagi. Simak salah komentar pelatih Brasil, Carlos Alberto Parreira, menyongsong pertandingan hari ini. "Melawan Jerman, kami butuh para pemain dengan kondisi fisik terbaik."
Meski demikian, Parreira menegaskan bahwa Brasil tak akan ikut-ikut bermain keras seperti Jerman. "Brasil tak bisa mencoba lebih fisikal daripada lawannya karena itu bukan gaya kami. Kami bermain berbasis umpan-umpan pendek yang cepat didukung para pemain yang memiliki naluri menyerang." Tapi, baik yang mengandalkan fisik maupun teknik, tetap saja harus memiliki organisasi permainan sebagai satu unit tim yang baik. Tanpa itu, tim mana pun bakal compang-camping. Nah, ini juga yang menjadi salah satu titik lemah Brasil saat ini.
Brasil seperti kembali ke 1980-an ketika sangat mengandalkan bakat alam pemain mereka dan malas mengorganisasi diri ketika diserang. Atau mereka terlalu percaya diri sehingga ketika kebobolan lebih dulu pun bisa segera disamakan.
Kesan instabilitas Brasil terjadi terutama dalam dua bulan ini ketika mereka dipecundangi Argentina 3-1 di kualifikasi di Piala Dunia dan kalah dari Meksiko di Piala Konfederasi ini dan nyaris kalah lagi dari Jepang. Tim Samba lolos ke semifinal hanya karena unggul selisih gol dari Tim Matahari Terbit.
"Kuartet magis" Brasil, yaitu Ronaldinho, Kaka, Adriano, dan Robinho, memang mempesona. Tapi Ze Roberto dan kawan-kawan dari tengah ke belakang, termasuk kiper Dida atau Marcos, mengundang rasa waswas dari tim yang sudah memenangi Piala Dunia lima kali ini.
Parreira berkilah bahwa tak mudah "menjadi" tim Brasil. "Semua orang ingin mengalahkan Brasil. Bila menghadapi kami, semua tim berusaha menampilkan permainan terbaiknya." Tapi, hari ini, Parreira menjanjikan Brasil akan tampil berbeda dari penampilannya di penyisihan grup. Meski, dia mengakui Jerman sekarang lebih bagus dalam menyerang.
Jerman sendiri bukan tanpa cacat. Malah penampilannya di pertandingan pembukaan melawan Australia kontan mengundang kritik atas lemahnya pertahanan yang dihuni para pemain muda. Lubang di lini belakang ini bagai melawan tradisi Jerman. Menurut para pengritik dari kalangan tokoh sepak bola, kelemahan Jerman itu bersumber dari keputusan pelatih Juergen Klinsmann memasang empat bek sejajar dalam formasi 4-4-2 dan bukan mencoba 3-5-2 atau kembali ke tradisi Jerman, 5-3-2.
Selain itu, ciri staying power yang biasanya menjadi ciri lain dari Jerman agak memudar ketika tim Panser tak mampu mempertahankan kemenangan. "Kami harus belajar lagi bagaimana mengamankan kemenangan," kata penyerang Jerman berkulit hitam, Gerald Asamoah.
Semifinal ini memang sama-sama merupakan sarana pembuktian bagi kedua tim untuk mematahkan kritik. Brasil ingin membuktikan masih seperti empat tahun lalu, yang memadukan antara bakat alam dan organisasi permainan modern. Sedangkan Jerman bukan tim yang angin-anginan di lini belakang dan tidak berdaya kalau Michael Ballack harus absen.
"Tak mudah untuk melawan kritik itu," kata pemain belakang Jerman, Per Mertesacker, 20 tahun. "Saya selalu sedikit grogi sebelum pertandingan. Tapi itu tak akan terjadi ketika sudah di lapangan. Saya mengagumi Brasil, tapi saya tak takut. Sangat penting membuat penyerang lawan menyegani Anda," kata bek tengah dari klub Hanover 96 ini, yang akan bahu-membahu dengan Robert Huth untuk "mematikan" kuartet Brasil yang sangat berbahaya itu. AFP | FIFA
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
![Pemain bulutangkis Denmark/ pasangan ganda putra, Thomas Lund bersama John Holts Christiensen dengan pialanya setelah menjuarai kejuaraan bulutangkis All England di London, Inggris, 1992. [TEMPO/ Mudrajat Kuncoro; 16D/150/1993; 20020816].](/hg/photostock/2005/04/09/s_16D15007_high_thumb.jpg) |
![Fanny Habibie bersama para pemain bulutangkis Indonesia: Joko Suprianto, Susi Susanti, dan Heryanto Arbi di London, Inggris, 1992. [TEMPO/ Mudrajat Kuncoro; 16D/150/1993; 20020816].](/hg/photostock/2005/04/05/s_16D15009_high_thumb.jpg) |
| Thomas Lund dan JH Christiensen
|
|
| Fanny Habibie, Joko Suprianto, Susi Susanti dll
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|