Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Spekulan Luar Serbu Beras Petani Lampung
Minggu, 04 Mei 2008 | 10:46 WIB

TEMPO Interaktif, Bandar Lampung:Sejumlah pedagang dan spekulan beras dari luar Lampung membeli gabah dan beras hasil panen petani Lampung. Mereka sanggup membeli lebih tingi dari harga resmi yang ditetapkan pemerintah. “Mereka datang dari beberapa propinsi di Sumatera untuk bertransaksi langsung dengan petani,” kata Soemargo, salah seorang pemilik pabrik penggilingan padi di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Tanggamus, Minggu, (4/5).

Para pedagang itu tidak segan-segan turun ke sawah dan menawar gabah yang baru dipanen. Mereka menawarkan harga lebih tinggi Rp 200 hingga Rp 500 per kilogram. Untuk gabah kering panen, misalnya, para sepekulan itu sanggup membeli Rp 2.500 per kilogram.

Padahal harga pembelian pemerintah hanya Rp. 2.300 untuk gabah kering giling. Sementara untuk beras, mereka membeli hingga Rp. 4.700 perkilogram. “Padahal pemerintah hanya menetapkan Rp. 4.300 per kilogram,” kata Soemargo.

Saat ini, musim panen di kabupaten Tanggamus, yang merupakan daerah penghasil padi terbesar di Lampung masih berlangsung. Diperkirakan pada 2008, provinsi Lampung mengalami surplus beras hingga 7,6 persen atau sekitar 169. 858 ton. Hal itu membuat para
pedagang yang berasal dari daerah yang minus beras menyerbu Lampung.

Menurut Soemargo, para pedagang itu mengaku berasal dari Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Medan . Diduga mereka memanfaat harga beras di luar negeri yang melonjak. “Ada kemungkinan mereka akan mengekspor beras-beras itu,” kata
pengusaha mitra Bulog Divisi Regional Lampung ini.

Badan Urusan Logistik Lampung optimistis bersaing dengan para spekulan itu meski harga yang ditawarkan lebih rendah. Pada 2008, Bulog Divisi Regional Lampung menargetkan membeli 100 ribu ton gabah petani Lampung. “Kerjasama telah diteken sebelum memasuki musim panen tiba,” kata juru bicara Bulog Lampung, Edi Hanif.

Edi juga menduga, para spekulan itu akan mengekspor yang mereka borong ke luar negeri. Mereka akan menangguk untung dari selisih harga beras yang menembus Rp 10 ribu per kilogram. “Modusnya, mereka menyelundupkan beras-beras itu melalui sejumlah pelabuhan rakyat di sepanjang Sumatera. Kami tidak berwenang mengawasinya. Itu tugas pemerintah,” kata Edi.

Nurochman


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk122413 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< May,2008>>
MSnSl RK JS
    01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data