|
Kopi Petik Merah di Lampung
Kamis, 09 Juni 2005 | 03:20 WIB
TEMPO Interaktif, Tanggamus:Pemerintah Propinsi (Pemprop) Lampung mencanangkan panen kopi petik merah, di Desa Tekat, Kecamatan Pulau Panggung, Tanggamus, Lampung, Rabu (8/6) kemarin. Pencanangan itu dihadiri oleh ratusan petani kopi dari dua kabupaten yang menjadi sentra kopi di Lampung, yaitu Kabupaten Tanggamus dan Kabupaten Lampung Barat.
Menurut kepala Dinas Perkebunan Lampung, Tri Haryanto, selama ini lebih dari 80 persen petani memanen kopi sebelum matang sempurna. Akibatnya, kualitas kopi yang dihasilkan hanya asalan atau yang dikenal dengan nama grade (tingkat mutu kopi biji) empat. "Padahal bila petani melakukan petik merah, mereka bisa mendapat keuntungan lebih dari lima puluh persen, ketimbang petik
hijau atau kuning,"katanya.
Saat ini, kopi kualitas asalan di tingkat petani dijual dengan harga Rp 8.200/kg. Sedangkan kualitas bagus (grade I), harganya mencapai Rp 9.450/kg. "Bila dilihat
harga perkilogram memang selisihnya tidak banyak. Tapi kopi yang dipetik merah, buahnya sudah padat dan kadar airnya sedikit. Dalam 8.300 biji kopi petik merah bisa menghasilkan empat kilogram, sedangkan bila petik masih
kuning hanya dua kilogram,"katanya.
Menurut sejumlah petani yang ditemui Tempo, mengaku tidak gampang melakukan petik merah. Apalagi saat ini harga kopi yang terbilang tinggi, membuat petani buru-buru ingin menjual kopinya. "Panen kopi itu, kan, hanya
sekali dalam setahun. Ketika kopi menguning, kami segera memetiknya, untuk membayar hutang, biaya hidup, dan membayar uang sekolah anak-anak,"kata Safari, salah seorang petani di Desa Tekat.
Menurut petani kopi lainnya, Rekso, dibanding tahun sebelumnya, harga kopi pada musim panen tahun ini sangat tinggi. Tahun lalu, harga kopi hanya Rp 3.500/kg. Meski harga tinggi, dibanding tahun lalu juga, produksi kopi justru turun drastis, akibat musim hujan yang terus menerus. "Kami takut kalau tidak buru-buru memetik dan menjual kopi, nanti harganya turun lagi seperti tahun
kemarin,"katanya.
Pemerintah propinsi Lampung juga menandatangani nota kesepahaman dengan PT Indo Cafco, sebuah perusahaan penggilingan kopi. Propinsi Lampung diwakili oleh wakil gubernur Syamsurya Ryacudu, PT Indo Cafco diwakili
oleh direktur perusahaan, Gean Christopher.
PT Indo Cafco akan menyediakan empat unit penggilingan kopi modern untuk mengolah hasil panen petani. Kopi hasil panen petik merah merah petani, kemudian digiling dan di proses di perusahaan tersebut. Setelah kering, kopi akan dijual ke PT Indo Cafco dengan harga sesuai pasaran.
Menurut Wakil Gubernur Lampung, Syamsurya Ryacudu, kesepakatan itu bertujuan untuk meningkatkan kualitas panen dan pengolahan kopi petani. "Bila petani
sudah melakukan panen dan mengolah kopi secara benar, kita harapkan kualitas ekspor bertambah, sehingga pendapatan petani bertambah,"katanya. Selama ini
harga kopi asal Lampung, meskipun volume ekspornya sangat tinggi, namun kualitasnya kebanyakan masih asalan.
Fadilasari
INDEKS BERITA LAINNYA :
|