|
Sumatera Utara
Kisah Penyelamatan Hendra
Sabtu, 02 April 2005 | 18:50 WIB
TEMPO Interaktif, Gunung Sitoli: Junianto, 40 tahun, tampak sibuk berdiskusi dengan beberapa tim penyelamat asal Singapura. Kadang-kadang kesibukannya terhenti ketika wartawan mewawancarainya. Semua permintaan itu tak pernah ditolak oleh warga Bandung ini. Semua dilayaninya termasuk ketika dia harus menjelaskan dalam bahasa Inggris kepada wartawan asing yang ingin mendengarkan kabar sepupunya, Hendra, 40 tahun, yang masih selamat meskipun tertimbun dalam rumah berlantai tiga bersama istri dan kedua anaknya yang beralamat di Jalan Sudirman No. 8 Gunung Sitoli, Nias.
Junianto datang bersama pamannya, Arwin Sabar, Dosen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung, Kamis lalu (31/3). Pada hari itu juga, Junianto langsung mempekerjakan beberapa tukang untuk melacak keselamatan kelurga sepupunya yang membuka toko suku cadang sepeda dan bengkel di rumahnya.
Para pekerja langsung dimintanya mencari titik yang diperkirakan sebagai tempat tidur. Junianto juga berusaha mengontak kelaurganya yang mempunyai kenalan tim penyalamat Singapura dan Meksiko. Mereka langsung bekerja cepat dengan menyediakan semua alat yang dibutuhkan. Pada hari kedua, pekerjaan dilanjutkan dengan mendeteksi tempat yang diperkirakan sebagai ruang tamu, namun tidak ditemukan. “Baru hari ini terdengar suara di tangga lantai satu, suara Hendra yang minta minum,” kata Junianto kepada wartawan,
Dengan bantuan alat komunikasi yang canggih dari Singapura, Kapten Ong, Kepala Tim Rescue Singapura berhasil berkomunikasi dengan Hendra. Dalam percakapan itu, Hendra mengaku baik-baik saja, hanya merasa kedinginan. Ia mengatakan istrinya, Rini, 35 tahun dan kedua putrinya Rina dan Risa sepertinya tidak bisa diselamatkan karena sudah tidak bernafas dan bau. Kebetulan ada lubang kecil yang memungkinkan biskuit dan minuman dapat diselipka ke tempat Hendra. “Dia bisa makan,” katanya.
Tidak lama kemudian, tim penyelamat berhasil mengeluarkan Hendra. Dia selamat meskipun kondisinya sangat lemah.
Rumah Hendra, menurut Junianto, merupakan rumah ketiga dari empat rumah yang saling berdempetan. Ketika gempa terjadi, rumah pertama menimpa rumah kedua yang berada di samping kirinya. Demikian seterusnya hingga rumah keempat, yang menimpa Gedung Dinas Penataan Ruang dan Permukiman.
Istiqomatul Hayati
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|