|
Empat Tewas dan 12 Hilang
Kapal Cepat “Tuakal” Dihantam Badai
Senin, 14 Maret 2005 | 20:56 WIB
TEMPO Interaktif, PEKANBARU:Sebuah kapal cepat (speedboat) “Tuakal” yang berpenumpang 60 orang, Minggu (13/3) siang dihantam gelombang besar di kawasan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau – 70 kilometer dari Pekanbaru. Empat penumpangnya tewas dan 12 orang lainnya dinyatakan hilang dalam perjalanan dari Kuala Kampar ke Pangkalan Kerinci.
“Speedboat itu kandas di pasir,” ujar Kapolres Pelalawan AKB Slamet Soeroso di Pakanbaru kepada Tempo melalui lewat telepon selularnya. Kandasnya kapal itu, kata Slamet, diduga karena pengemudi speedboat salah perhitungan memilih alur yang dangkal. Padahal, alur dangkal di perairan itu selalu berpindah-pindah karena faktor alam.
Tiga penumpang yang tewas ditemukan tidak beberapa lama kejadian. Satu penumpang tewas lainnya baru ditemukan Senin (14/3) saat Tim SAR melakukan upaya pencarian atas 13 orang penumpang yang sebelumnya dinyatakan hilang terseret gelombang besar.
"Sebanyak 44 penumpang dinyatakan selamat,” kata Slamet. Hingga kemarin, Tim SAR masih melanjutkan pencarian atas penumpang yang hilang.
Slamet mengaku belum bisa merinci nama-nama penumpang yang tewas, hilang dan selamat itu. "Saya sedang di lapangan. Nama-nama korban akan diberitahu kemudian,” kata Kapolres. Korban tewas telah dievakuasi di Rumah Sakit Umum Pelalawan.
Perairan Meranti dikenal sebagai pusat pertemuan arus sungai Sungai Kampar dan arus Selat Malaka sehingga arus airnya cukup deras. Sedangkan gelombang pasang – yang disebut “Bono” oleh warga di kawasan itu – merupakan badai yang lazim terjadi di dua sungai Riau, yakni di Sungai Kampar dan Sungai Rokan.
Menurut Fakhrunas Jaabar, warga Pelalawan, puluhan tahun lalu musim gelombang pasang biasanya terjadi dua kali sebulan yakni awal bulan dan pertengahan bulan. Dulu, kata Fakhrunas, warga biasa memanfaatkan Bono sebagai sarana mengadu keberanian dan ketangguhan berselancar.
Namun entah karena mungkin dinilai makin membahayakan kegiatan adu keberanian itu kini nyaris tidak pernah dilakukan lagi. Bono, kata Fakhrunas yang bekerja sebagai tenaga humas di sebuah perusahaan terkemuka di Pelalawan itu mengatakan, Bono bisa menyebabkan arus air mencapai ketinggian 15 meter-20 meter.
"Saat kapal kandas itulah mungkin tiba-tiba muncul Bono--gelombang pasang besar yang ditakuti di perairan Riau-- yang langsung menggulung kapal itu tanpa bisa diantisipasi pengemudi, awak maupun penumpang speedboat," kata Kapolres Pelalawan. Kapal yang dihantam Bono itu langsung terbalik dan terseret ke tengah perairan dibawa arus gelombang pasang besar itu. Sehingga, kata Kapolres, speedboat tak mungkin menghindar dari Bono yang datang tiba-tiba.
Sekitar tahun 1990-an, sebuah kapal di perairan yang sama juga pernah dihantam Bono. Pada kejadian itu seluruh penumpang dan awak kapal tidak ada yang selamat. l evalisa siregar
INDEKS BERITA LAINNYA :
|