|
Bandar Lampung
Kapal Rusak, Penumpang Terkatung-Katung di Laut
Sabtu, 20 November 2004 | 19:13 WIB
TEMPO Interaktif, Bandar Lampung:Kapal feri Nusa Mulya dari Pelabuhan Merak, Banten, yang akan memasuki Pelabuhan Bakauheni, Lampung, mengalami kerusakan pada Sabtu (20/11) dinihari. Akibatnya, kapal yang membawa sebanyak 292 penumpang dan 66 unit kendaraan itu terkatung-katung sekitar sembilan jam di perairan Selat Sunda.
Kepala PT Angkutan Sungai Danau dan Pelabuhan (ASDP) Bakauheni, Eddy Pinantoan mengatakan, kapal naas tersebut berangkat dari dermaga empat Pelabuhan Merak pada pukul 00.36 WIB. Seharusnya, kapal milik PT Putra Master buatan 1979 tersebut sudah tiba di dermaga empat Bakauheni pukul 02.36 WIB.
"Namun, hingga pukul 06.00 WIB, petugas kami sempat heran, mengapa kapal Nusa Mulya itu tidak juga merapat. Beberapa saat kemudian kami mendapat kabar bahwa kapal tersebut mengalami kerusakan," kata Eddy.
Begitu menerima laporan tersebut, aparat segera bertindak. Mereka memutuskan untuk mengirimkan kapal khusus untuk mengevakuasi penumpang. Selain itu, mereka juga memutuskan untuk mengirimkan kapal lain untuk menarik Kapal feri Nusa Mulya yang mogok di tengah laut.
Pada pukul 08.00 WIB, kapal cepat Nusa Bunga didatangkan dari Pelabuhan Merak. Kapal bantuan tersebut mengevakuasi penumpang hingga dua kali.
Sementara itu, untuk menarik kapal Nusa Mulia ke dermaga, para
petugas harus mendatangkan dua buah kapal tunda (tug boat). Kapal feri Nusa Mulya akhirnya bisa bersandar di dermaga empat pada pukul 11.30 WIB.
Para penumpang yang berhasil dievakuasi mengaku sangat panik karena berada di dalam kapal yang mati mesin selama berjam-jam. "Kami tidak tahu apa penyebab kapal tersebut tidak bergerak, karena tidak ada pemberitahuan sama sekali," ujar Hardi, salah seorang penumpang dengan nada kesal.
Adapun Eddy menjelaskan, kemudi kapal tersebut tidak bisa dibelokkan ke kiri. "Kapal hanya bisa berjalan lurus. Oleh karena itu, kapten kapal memutuskan untuk menghentikan perjalanan di tengah laut," katanya.
Sementara itu, admistratur pelabuhan Bakauheni Zainul Arif menyesalkan lambatnya laporan kerusakan kapal sehingga evakuasi sangat terlambat dilakukan.
Arif mengakui, rata-rata kapal yang berlayar di perairan Selat Sunda ini berusia sangat tua. Namun, menurut dia, kapal tersebut masih layak jalan. "Namun, yang namanya kerusakan tidak bisa diperkirakan kapan terjadinya," kata Arif.
Fadilasari - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|