Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Sumatera Selatan

Pempek-Pempek Laku Keras
Jum'at, 19 November 2004 | 13:15 WIB

TEMPO Interaktif, Palembang:Pasca lebaran pesanan makanan khas palembang seperti pempek, krupuk dan kemplang meningkat tajam. Makanan khas ini dipesan oleh para pemudik yang akan kembali ke tempat asalnya. Di beberapa toko makanan khas Palembang terlihat dibanjiri pengunjung untuk mencari makanan tersebut.

Sejumlah toko Pempek di Palembang, malah tidak melayani konsumen yang akan makan di tempat, mereka hanya melayani untuk bungkus dan oleh-oleh saja. "Kalau makan disini kami ngak bisa layani, karena pesanan banyak," ujar Asiong toko empek-empek di lorong kulit, Jumat (19/11).



Toko pempek seperti Pak Raden, Cendy dan Nonny juga terlihat banyak kotak-kotak pesanan berisi pempek yang akan segera dibawa.

Para pemudik biasanya membawa makanan khas seperti pempek untuk oleh-oleh dalam bentuk rebusan dan sudah dilumuri dengan sagu agar tidak basi, untuk kuah atau biasa di sebut cuko sudah dikemas sedemikian rupa dalam bentuk padat dan praktis sehingga pemudik tidak kesulitan lagi untuk membuat saos atau cuko pempek tersebut.

Karena banyak pesanan, beberapa took pempek mulai menaikkan harga dagangan mereka seperti Pempek Meiwa, pempek Pak Raden, Cendi, Nonny mulai tanggal 24 Oktober lalu naik dari Rp. 1000 per biji untuk pempek kecil naik menjadi Rp1250, sementara untuk bentuk lenjeran dijual Rp.15.000.

Kenaikan harga pempek ini, kata pedagang pempek, dipicu dengan naiknya harga jual jual bahan baku untuk membuat pempek seperti ikan gabus, Belido dan lain-lain. Karena sudah hampir satu bulan ini harga ikan gabus naik drastis .

Bahan baku pembuat makanan khas palembang seperti pempek, kerupuk, tekwan, dan sebagainya mengalami kenaikan hampir 50 persen dari semula hanya Rp 15.000-Rp 20.000 per kg, kini mencapai Rp 55.000/kg sampai Rp.60.000.

Arif Ardiansyah - Tempo


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Selama Lebaran, Harga Ponsel Naik
Warga Dapat Kesempatan Berlebaran dengan Presiden di Istana
Shalat Ied di Ambon Berlangsung Aman
Ragunan Berbenah Menyambut Wisatawan
Anggota DPRD Dikepung Todongan Permintaan THR
Kadin DKI: Harga Kebutuhan Pokok Akan Naik 10 Persen
Hotel di Lombok Penuh Selama Libur Lebaran
PP Muhammadiyah: 1 Syawal Jatuh pada 14 november 2004
Pelabuhan Merak Belum Dipadati Pemudik
Lebaran, Truk Dilarang Masuk Solo
> selengkapnya...


Referensi

Kepres RI No.19 Thn. 2002 Tentang Hari Tahun Baru Imlek

Website

Departemen Agama


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Begini Rasanya Menjadi Pegawai Pertama Google
Pusat Perbelanjaan di Semarang Mulai Ramai
Soekarwo Dekati Persatuan Guru Republik Indonesia
Presiden Buka Puasa di Kediaman Ketua DPD
Indonesia Diminta Garap Energi Iran

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data