|
Belasan Ribu TKI Masuk Propinsi Kepri
Sabtu, 13 November 2004 | 15:23 WIB
TEMPO Interaktif, Kepulauan Riau>:Jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang tiba di tanah air kian meningkat. Mereka umumnya adalah TKI ilegal yang mendapat amnesty Pemerintah Malaysia untuk pulang ke Indonesia. Meningkatnya jumlah itu karena sebentar lagi masa amnesty itu akan berakhir. Daripada dihukum di negeri seberang lebih baik lekas pulang.
Yang pulang lewat Kepulauan Riau yakni Batam, Tanjungpinang dan Karimun telah mencapai 15.000-an orang. Kebanyakan mereka langsung pulang ke daerah asal masing-masing. Di Karimun hanya tersisa 389 orang dan dijadwalkan berangkat Sabtu, hari ini.
Sedangkan di Tanjungpinang hanya ada 65 orang dan juga akan meninggalkan kota itu melalui Batam menggunakan pesawat udara.
Arifin Nasir, Ketua Tim Penanggulangan Pemulangan TKI, Kota Batam, mengatakan bahwa pihaknya akan terus mengurus TKI tersebut. Bagi yang belum langsung pulang ke daerah asalnya, akan ditampung di wisma transit Sekupang. Pihaknya meminta pada petugas yang non-muslim untuk terus bekerja meski hari libur lebaran. “Akan dipulangkan segera, tidak boleh berlama-lama di Batam,” kata Nasir. Sebab itu menambah beban Pemerintah Daerah.
Hal senada juga disampaikan Chaidir, Ketua Tim Penanggulangan Pemulangan TKI Karimun. Chaidir mengatakan kebanyakan TKI itu membeli tiket pesawat di agen yang ada di Karimun. Demikian pula yang akan menggunakan kapal laut. “ Kami berusaha agar TKI langsung pulang, karena tempat penampungan terbatas,\'\' kata Chaidir menjawab Tempo.
Meski petugas sangat ketat mengawasi aktivitas calo tiket di Pelabuhan Laut Sekupang dan Bandara Hang Nadim, namun calo tetap berkeliaran. Dengan sembunyi-sembunyi. Kepada Tempo seorang calo menawarkan tiket jurusan Tanjung Priok kelas ekonomi. Harganya melambung tinggi. Biasanya Cuma Rp. 180.000, si calo ini menjual dengan Rp. 300.000. Umumnya para calo ini mengincar TKI yang dengan mudah diketahui dari ciri-cirinya: membawa barang lebih banyak dari penumpang biasa.
Hingga tanggal 12 November 2004 di debarkasi Tanjungpinang tercatat 7000-an TKI telah masuk, di Batam 3.500-an orang dan di Karimun 4.220 orang. Dan sebagian besar menggunakan pesawat udara untuk melanjutkan perjalanan ke kampung halaman masing-masing, sedangkan melalui laut hanya berkisar 1.200 -an orang lebih.
Di Bandara Hang Nadim gerak-gerik para calo diintai polisi dan petugas bandara. Sehingga aktivitasnya tidak mencolok. Meski demikian masih ada yang tertipu ulah calo ini. Maryani misalnya rencana membeli tiket di biro perjalanan di Nagoya, Batam. Ternyata tiket sudah habis. Tak lama muncul seorang laki-laki menawarkan tiket jurusan Jogyakarta dengan pesawat Lion Air dengan harga Rp. 1,2 juta. Padahal harga resminya tak lebih dari Rp. 775.000. “Saya terpaksa beli karena ingin pulang,” kata Maryani kepada Tempo, di Bandara Hang Nadim.
Kapoltabes Barelang, Komisaris Besar Polisi, Andoyono, berjanji akan memberantas percaloan baik di Pelabuhan Laut maupun di Bandara Hang Nadim. Untuk itu pihaknya menghimbau para calon penumpang agar tidak mudah tergiur tawaran calo. Di Sekupang misalnya Polisi menghimbau calon penumpang dengan menggunakan pengeras suara.
Himbauan itu berbunyi : “Diharapkan calon penumpang hati-hati, simpan HP dengan baik, jangan mengambil minuman kaleng yang ditawarkan orang tak dikenal, dan simpan uang di tempat yang tak mudah di ketahui.”
Rumbadi Dalle --Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|