|
NAD
DPRD Aceh Minta Penutupan Pabrik AAF Ditinjau Ulang
Rabu, 06 Oktober 2004 | 18:50 WIB
TEMPO Interaktif, Banda Aceh: Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Nanggroe Aceh Darussalam meminta pemerintah meninjau ulang keputusan menutup pabrik pupuk Asean Aceh Fertilizer (AAF). Sebab, kebijakan ini dikhawatirkan akan memicu konflik baru di provinsi yang sedang dilanda konflik itu.
Ketua sementara DPRD Aceh Jauharuddin Harmay
mengatakan pihaknya sangat prihatin atas keputusan
pemerintah menutup pabrik pupuk yang dimodali
negara-negara Asean itu. Keputusan pemerintah menutup
pabrik AAF, kata dia, merupakan bentuk ketidakpekaan
pemerintah terhadap berbagai masalah yang dihadapi
NAD. "Ini sangat menyakitkan. Jangan sampai rakyat Aceh menafsirkan ini bentuk ketidakadilan dari pemerintah terhadap rakyat Aceh. Jika ini terjadi kami khawatir akan memunculkan potensi konflik baru," kata Jauhari
kepada wartawan di Banda Aceh, Rabu (6/10).
Penutupan AAF, kata dia, tidak hanya mengakibatkan 1.500 karyawan kehilangan pekerjaan, tapi juga mengorbankan keluarga mereka. Selain itu, sejumlah desa
sekitar AAF yang selama ini memperoleh rezeki dari keberadaan pabrik itu dipastikan akan jadi korban juga. "Biaya sosial yang harus dibayar dengan penutupan pabrik itu cukup besar," ujar Jauhari.
Karenanya, DPRD Aceh meminta pemerintah baru mencari
solusi lain untuk mengatasi krisis gas sebagai bahan
baku pabrik pupuk itu tanpa harus mematikan perusahaan
itu. Lembaga dewan, kata dia, dalam waktu dekat akan
melakukan pendekatan kepada pemerintah agar
membatalkan penutupan AAF.
Sementara itu, manajemen dan karyawan AAF menyatakan
akan melawan keputusan pemerintah. Ketua Tim Media dan
Opini Publik Karyawan AAF, Edwar Salim mengatakan
pihak karyawan akan mengirim tim untuk bertemu Susilo
Bambang Yudhoyono yang sudah ditetapkan sebagai
presiden baru Indonesia. Tim ini, juga akan diperkuat unsur masyarakat seperti ulama dan tokoh-tokoh lain. Mereka akan meminta SBY mencari solusi lain untuk tetap menghidupkan AAF.
Erward juga menyatakan keheranannya atas pernyataan
Menko Perekonomian Dorodjatun Kontjoro-Jakti yang
menyatakan salah satu alasan penutupan AAF karena
pabrik itu sudah tua. "Pabrik pupuk Kujang lebih tua dari AAF," kata Edward.
DPRD Aceh mendukung tindakan perlawanan yang digalang
karyawan dan manajemen AAF. "Soal karyawan AAF akan
melawan, saya kita itu wajar-jawar saja dan patut
dilakukan," kata Jauhari.
Yuswardi A. Suud - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|