|
Nasional
GAM Janji Bebaskan Ferry Santoro 13 Mei
Selasa, 04 Mei 2004 | 22:46 WIB
TEMPO Interaktif, Banda Aceh: Kameraman RCTI yang saat ini masih disandera Gerakan Aceh Merdeka wilayah Peurelak pimpinan Ishak Daud, akan dibebaskan 13 Mei mendatang. Rencana itu disampaikan Ishak Daud saat dihubungi Tempo News Room melalui telepon seluler, Selasa (4/5).
Menurut Ishak Daud, keputusan membebaskan Fery Santoro muncul setelah pihaknya yang diwakili penasihat hukum Alamsyah Hamdani berkoordinasi dengan Palang Merah Internasional ( ICRC). "Menurut ICRC, TNI sudah setuju untuk memperlancar proses pembebasan," ujar Ishak.
Menurut Ishak, awalnya pihak ICRC meminta agar pelepasan dilakukan pada Sabtu (8/5) karena bertepatan
dengan hari ulang tahun ICRC. Namun, permintaan itu ditolak karena waktunya terlalu mepet. "Akhirnya disepakati pembebasan dilakukan pada 13 Mei," ujarnya.
Dalam rencana pembebasan kali ini, kata dia, pihaknya tidak lagi meminta gencatan senjata maupun penarikan
pasukan TNI di sekitar lokasi pembebasan. Namun, Ishak Daud meminta TNI yang berada di sekitar lokasi
pembebasan untuk tidak melakukan operasi maupun pergerakan militer selama dua hari.
Hari pertama, kata dia, akan dimanfaatkan untuk mengumpulkan para tahanan. Sedangkan hari kedua yakni
pada saat pembebasan. "Kami minta mereka tidak melanggar kesepakatan agar proses pembebasan berjalan
lancar," ujarnya.
Menurut Ishak, pembebasan direncakan akan dipusatkan di sekitar perusahan perkebunan PT Bumi Flora di
kawasan Idi Rayeuk, Aceh Timur. Di sekitar tempat itu, kata dia, ada sekitar 50 pos TNI.
Selain Ferry Santoro, kata dia, pihaknya juga akan membebaskan 100 dari sekitar 200 sandera yang masih
ditahan bersama GAM. "Kami kesulitan untuk membebaskan semuanya karena posisi mereka terpencar di beberapa titik," kata Ishak. Ishak meminta acara pembebasan diliput wartawan.
Ditanyai tentang kondisi Ferry Santoro, Ishak mengatakan dirinya sudah seminggu tidak bertemu Ferry
Santoro. Ketika bertemu seminggu lalu, kata dia, Ferry sempat terserang demam dan diare. "Biasalah, penyakit
orang di hutan. Saya pastikan Ferry dibebaskan asal tak ada pergerakan TNI," ujarnya.
Juru bicara Komando Operasi TNI Letkol CAJ Asep Sapari mengaku tak tahu soal rencana pembebasan tersebut. "Ah gombal itu. Ishak Daud saja kok dipercaya," ujarnya.
Ferry ditahan GAM sejak 29 Juni 2003 bersama reporter RCTI, Ersa Siregar, Rahmatsyah (supir) dan dua istri
TNI yakni Farida dan Soraya. Ersa Siregar meninggal dalm peristiwa kontak senjata TNI dan GAM pada akhir
Desember lalu. Sedangkan Rahmatsyah, Farida dan Soraya, dapat meloloskan diri ketika pasukan GAM yang
mengawal mereka terlibat kontak senjata dengan pasukan TNI yang sedang patroli.
Negosiasi pembebasan Ferry sebenarnya telah pernah dilakukan pada Januari silam. Namun, rencana itu tak
terealisasi karena permintaan GAM untuk gencatan senjata tak dipenuhi.
Yuswardi A. Suud - Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|