|
Riau
Warga Kampar Tanda Tangan Dengan Darah Menolak Bupati
16 Maret 2004
TEMPO Interaktif, Pekanbaru:Aksi tanda tangan dengan menggunakan cap jempol dengan (tinta) darah, hari ini (16/3) dilakukan para guru, pegawai negeri sipil, pemuda, masyarakat, dan ninikmamak di Kampar sebagai sikap tegas tetap menolak kepemimpinan Bupati Kampar Jefri Noer.
Aksi tersebut juga sebagai wujud desakan untuk Mendagri Hari Sabarno memecat Jefri. Aksi-aksi itu merupakan bagian aksi dalam apel akbar yang masih tetap dilakukan warga Kampar di Gedung Mahligai Bungsu, Bangkinang.
"Yah aksi cap jempol dengan darah masing-masing orang yang membubuhkan tanda tangan dilakukan para guru, PNS, dan masyarakat Kampar lainnya pada Selasa pagi. Tindakan ini sebagai wujud komitmen masyarakat Kampar yang meminta Mendagri mencopot Jefri Noer," kata Basrun, bekas pelaksana tugas Dinas Dikpora Kampar, kepada Koran Tempo.
Selain cap jempol dengan tinta darah, menurut Basrun, para guru dan beberapa masyarakat Kampar juga melakukan aksi penandatanganan keikutsertaan berangkat ke Jakarta menjumpai Mendagri.
"Rencananya utusan masyarakat Kampar itu berangkat hari Rabu atau Kamis. Utusan yang terdiri dari para guru, pemuka masyarakat, dan kalangan masyarakat lainnya direncanakan akan menginap di Wisma Pemda Riau atau kalau memungkinkan membuat kemah di kantor Mendagri," kata Basrun.
Menurut Basrun, utusan masyarakat Kampar itu direncanakan baru akan pulang ke Kampar setelah Mendagri mengambil keputusan mencopot Jefri. "Tapi coba cek lagi-lah, rencana itu merupakan yang saya dengar. Tapi tanda tangan untuk berangkat ke Jakarta menggunakan dana masing-masing itu memang ada," kata Basrun.
Abdul Latief Hasyim, guru sekolah yang diusir Bupati Jefri, ketika dihubungi terpisah membenarkan adanya kedua aksi itu.
"Tapi terus terang hingga Selasa siang ini, saya belum membubuhkan cap jempol dengan darah itu. Tadi saya mengajar di sekolah," ujar Latief yang juga Kepala Sekolah SMUN 2 Airtiris, Kampar.
Namun, katanya, dia sendiri sudah memastikan diri membubuhkan tanda tangan setuju untuk berangkat ke Jakarta menjumpai dan mendesak Mendagri untuk mencopot Jefri Noer dari jabatan Bupati Kampar bersama guru dan para tokoh masyarakat.
Menjawab pertanyaan adanya sinyalemen keberangkatan para guru dan tokoh masyarakat ke Jakarta dibiayai sekelompok orang yang berkepentingan atas jatuhnya Jefri dari Bupati Kampar, Latief membantah.
"Saya tidak mengomentari dana ke Jakarta yang dimiliki warga Kampar lainnya. Tapi dana saya benar-benar dana sendiri," katanya.
Menurut dia, keberangkatan utusan warga Kampar itu merupakan inisiatif warga yang merasa pemerintah pusat lamban mengambil sikap tegas atas kasus di Kampar dan bahkan terkesan pro ke Jefri Noer.
"Sesuai komitmen warga Kampar, warga khususnya para guru tetap akan melakukan aksi meminta Jefri Noer mundur," kata Latief.
Sebelum aksi penandatanganan dengan cap jempol menggunakan tinta darah, akhir pekan lalu (Sabtu) para warga Kampar melakukan aksi membakar miniatur peti mati pemberian Jefri kepada kepala dinas Kampar yang dinilainya tidak becus.
Sementara Senin lalu dalam apel akbar menolak kepemimpinan Jefri Noer juga dilakukan aksi membakar poster-poster dan foto Jefri Noer.
Evalisa Siregar - Tempo News Room
|