|
Jambi
Kerugian Banjir Jambi Rp 254,6 Miliar
09 Januari 2004
TEMPO Interaktif, Jambi: Banjir yang melanda hampir separuh Provinsi Jambi, Desember 2003, ditaksir mengakibatkan kerugian Rp 254,6 miliar. Bencana tersebut telah menghancurkan sarana sosial dan ekonomi masyarakat yang membutuhkan rehabilitasi segera.
Berdasarkan data pemerintah daerah, kerugian meliputi bidang pertanian terutama pada tanaman pangan sekitar
Rp 93,6 miliar, kerusakan ruas jalan nasional, provinsi dan kota, Rp 67,1 miliar, kerugian bidang pengairan Rp
30 miliar, perumahan dan pemukiman Rp 10 miliar,
pendidikan Rp 43 miliar, kelautan dan perikanan Rp 4,7
miliar, peternakan Rp 1,2 miliar dan kesehatan Rp 5,1
miliar.
Khusus sektor pertanian tanaman pangan, banjir telah merusak sawah padi seluas lebih kurang 42.855
hektare, palawija 1.586 hektare dan holtikultura 2.923
hektare, di sembilan wilayah dari 10 wilayah kabupaten dan kota, kecuali Kabupaten Kerinci.
Banjir merengut lima korban jiwa akibat hanyut terbawa arus dan terkena sengatan listrik. Banjir juga telah merusak berbagai sarana pendidikan dan ibadah. Sarana pendidikan yang rusak meliputi 11 unit gedung
SLTA, 30 unit gedung SLTP, 174 unit gedung SD serta
gedung MTS dan MIs, 38 unit.
Diperkirakan 135 kilometer jalan nasional, provinsi dan kota mengalami kerusakan dan membutuhkan perbaikan. Sedangkan rumah penduduk yang tenggelam sebanyak 36.027 unit, empat diantaranya hanyut terbawa arus. Selain itu, 101 unit puskesmas, pusat pelayanan umum dan rumah dinas bidan terendam banjir.
Banjir akibat meluapnya Sungai Batanghari yang
merupakan urat nadi sebagian warga masyarakat Provinsi
Jambi dan beberapa anak sungai lainnya itu, telah
merusak 22.332 meter saluran irigasi.
Pascabanjir, 5.036 warga menderita penyakit saluran pernapasan bagian atas (ispa), 1.129 terjangkit diare, 7,252 orang terkena penyakit kulit, 6.155 orang terkena flu dan sekitar 3.362 orang mengidap penyakit lainnya.
Pemerintah daerah Provinsi Jambi beserta jajarannya
telah memberikan bantuan kepada warga korban banjir, seperti beras, mie instan, lauk pauk, obat-obatan, alat dapur dan tenda. Selain pemerintah daerah, lembaga-lembaga lain seperti Departemen Sosial, Palang Merah Indonesia, Palang Merah Internasional, perorangan lembaga
sosial dan keagaman, juga memberikan sumbangan dengan total nilai Rp 908,2 juta.
Lebih jauh, pemerintah daerah Provinsi Jambi telah mengintruksikan kepada seluruh pemerintah kabupaten dan kota di daerah ini, agar tetap waspada menjaga kemungkinan terjadinya banjir susulan. Diharapkan, antara lain supaya tetap menyediakan posko bantuan banjir.
Banjir yang merupakan langganan Provinsi Jambi ini, adalah akibat curah hujan cukup tinggi yang mengakibatkan naiknya debit Sungai Batanghari dari rata-rata ketinggian 9 meter menjadi lebih dari 12 meter lebih. Disamping itu, erosi, sedimentasi, telah mengakibatkan pendangakalan sungai.
Selain itu, penebangan liar di hutan juga turut andil sebagai penyebab banjir. Sebab dari sekitar 2,17 juta hektare lebih kawasan hutan, baik hutan suaka alam, pelestarian alam, hutan lindung, hutan produksi terbatas, hutan produksi tetap dan hutan produksi partisipasi, diperkirakan 30 - 40 persen diantaranya telah rusak.
Syaipul Bakhori - Tempo News Room
|