|
Bireuen
Dua Pelajar Tertembak TNI di Bireuen
08 Januari 2004
TEMPO Interaktif, Bireuen: Dua pelajar kakak beradik yakni Muntasir, 17 tahun, dan Harmadi, 14 tahun, terkena tembakan dari pasukan TNI saat melakukan penyisiran di Desa Lapehan Mesjid, Kecamatan Makmur, Bireuen, Rabu (7/1). Muntasir tewas di lokasi, sedangkan Harmadi dirawat di Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh dalam kondisi kritis.
Ibu korban, Darwati, 40 tahun, mengatakan kedua anaknya baru saja bangun tidur ketika terdengar letusan senjata pada Rabu (7/1) sekitar pukul 06.00 WIB. "Kemudian saya mendengar suara bentakan menyuruh kami turun dari rumah yang diikuti tembakan ke atas," kata Darwati dalam bahasa Aceh saat ditemui di Rumah Sakit Zainoel Abidin, Kamis (8/1).
Menurut Darwati, seluruh penghuni kemudian turun dari rumah berbentuk panggung dan menuju halaman depan. Tak lama kemudian, kata dia, diantara suara desingan peluru terdengar teriakan memerintahkan mereka untuk
tiarap. Darwati dan suaminya Sulaiman tiarap di bawah kolong rumah, sementara Muntazir dan Harmadi berada di
halaman.
Saat tiarap itulah ibu enam anak itu melihat anaknya Muntasir dan Harmadi rubuh ke tanah dalam keadaan
tertelungkup. Ia mengaku tidak mengetahui siapa yang terlebih dahulu jatuh karena suasana saat itu sedang
panik. Muntasir dan Harmadi masing-masing tercatat sebagai pelajar kelas tiga dan dua di Madrasah
Tsanawiyah Negeri Ulee Glee, Kecamatan Makmur, Bireuen.
Muntasir tewas di lokasi kejadian setelah peluru menghantam bagian pinggangnya. Sedangkan Harmadi
tertembak di leher bagian belakang tembus ke mulut. Siang itu juga Harmadi yang masih hidup dibawa ke
rumah sakit Zainoel Abidin di Banda Aceh yang berjarak sekitar 250 kilometer dari Bireuen.
Melihat kedua anaknya tertembak, Darwati berteriak kepada empat personil TNI yang berada di halaman
rumahnya untuk berhenti melepaskan tembakan. "Anak saya kena tembak. Dia tidak bersalah," teriak Darwati
saat itu. Awalnya, permintaan itu tidak direspons. Bahkan, seorang personil TNI berteriak menyuruhnya
diam. Untunglah, tak lama kemudian seorang TNI lainnya yang diduga pimpinan pasukan memerintahkan untuk
menghentikan tembakan. Saat itulah Darwati melihat sekitar 20 anggota TNI keluar dari balik pohon kelapa
di sekitar rumahnya.
Usai kejadian itu, kata dia, pimpinan pasukan TNI meminta maaf seraya memeluknya. "Maaf ya bu. Ini bukan
disengaja. Kami sedang mengejar GAM," kata Darwati menirukan ucapan komandan pasukan TNI saat itu. Ia
mengaku tidak tahu asal kesatuan pasukan itu. Pasukan TNI kemudian membawa kedua korban ke rumah sakit.
Hingga pukul 11.00 WIB siang ini, Harmadi masih tergeletak di ruang rawat bedah Rumah Sakit Zainoel
Abidin, Banda Aceh. Meski sudah siuman, namun Harmadi belum bisa bicara. Mulut dan hidungnya yang robek
terkena tembakan dipasangi selang oksigen. Darwati sendiri tampak tegar menghadapi kejadian itu. "Saya
anggap salah satu anak saya sudah waktunya meninggal. Ka troh ajal jih (sudah waktunya dia meninggal). Saya tidak dendam. Saya sudah memaafkan kejadian ini," ujar wanita yang sehari-hari sebagai petani itu. Hanya saja, ia merasa sedih tidak sempat menyaksikan pemakaman anaknya yang tewas karena harus mendampingi
Harmadi ke rumah sakit.
Juru bicara Komando Operasi TNI Aceh Letkol Ahmad Yani Basuki yang bermarkas di Lhokseumawe mengaku belum mendapat kabar soal peristiwa itu. "Saya baru tiba dari Banda Aceh. Nanti saya lihat lagi laporannya di
komando operasi," kata Yani saat dihubungi dari Banda Aceh melalui telepon genggamnya.
Yuswardi A. Suud - Tempo News Room
|