|
Sumatera Selatan
Massa Kembali Berunjukrasa di PLN Palembang
20 Oktober 2003
TEMPO Interaktif, Palembang: Untuk ketiga kalinya massa berdemonstrasi di depan gedung Perusahaan Listrik Negara Sumatera Selatan, Senin (20/10). Para pengunjuk rasa yang mengatasnamakan diri sebagai Barisan Pemuda Sumatera Selatan (BPS) dan Barisan Mahsiswa Sumatera Selatan (BMS).
Tuntutan mereka tetap sama yaitu, meminta PLN menjamin tidak ada pemadamaan listrik mulai hari ini sampai seterusnya, terutama dibulan puasa. Apabila pihak PLN tidak berani menjamin untuk tidak ada pemadaman maka, PLN harus membuat kebijakan pembayaran rekening listrik hanya dihitung dua minggu dalam satu bulan. Mereka juga menyayangkan sikap PLN yang membawahi wilayah Jambi dan Bengkulu, selalu beralasan kekurangan daya listrik.
Sementara itu menurut pengunjuk rasa, PLN mampu mensuplai listrik dengan skala ribuan watt ke perusahaan-perusahaan besar yang dimiliki pengusaha dan konglomerat, lantaran imbalan yang diberikan sampai miliaran rupiah. “Padahal, perusahaan-perusahaan berskala besar tersebut seharusnya mampu membuat pembangkit listrik sendiri yang digunakan dilingkungan mereka sendiri,” ujar Donni Sudirman, koordinator aksi.
Mereka minta bertemu dengan general manager, tapi hanya bisa ditemui kepala cabang PLN Palembang Syafri Djamil.
Dalam pertemuan itu, pengunjuk rasa diwakili oleh Sehabudin Rauf ketua BPS, Ebit, Sekretaris Jenderal BPS, Beny, Ketua BMS serta Wisma Heri pengacara BPS.
Dalam pertemuan itu, Syafri menjelaskan, PLN tidak bisa menjamin tidak melakukan pemadaman listrik. Sebab, kenyataannya sitsem kelistrikan di Sumsel, Jambi dan Bengkulu memang defisit daya listrik. Hal itu disebabkan minimnya pasokan air ke pembangkit milik PLN, juga rusaknya mesin pembangkit milik PLN. Namun, sudah tiga hari ini tidak terjadi pemadaman listrik bergilir di Sumsel, karena Pembangkit Listrik Tenaga Uap Tanjung Enim yang mesinnya rusak sudah dapat diperbaiki dan menyuplai 45 MW. Yang kedua, karena beberapa hari ini hujan maka, Pembangkit Listrik Tenaga Air Batu Tegi yang ada di Lampung dapat menyuplai 14 MW. Wilayah Wai Besai dapat menyuplai 100 persen yaitu sekitar 90 MW.
“Karena listrik tergantung pada alam, siapapun yang memimpin PLN tidak bisa menjamin tidak ada pemadaman,” ujarnya. Tapi, Syafri mengatakan, bukan berarti PLN tidak berusaha. PLN sudah melakukan beberapa pencarian energi baru, seperti akan dibangunnya pembangkit listrik di wilayah Merah Mata dan wilayah Borang yang dapat menyediakan 150 MW yang saat ini masih dalam pengerjaan kontraktor dari Cina. Kedua, pembangkit di Talang Duku yang sudah dapat beroperasi dan menyuplai 80 MW.
Sampai berita ini diturunkan, massa masih tetap bertahan di lapangan parkir menunggu hasil negosiasi atau menunggu perwakilan mereka di lantai 3 kantor PLN cabang Palembang. Polisi masih bersiaga penuh, untuk mengantisipasi bentrok yang pernah terjadi pada pekan lalu dikantor PLN.
Arif Ardiansyah - Tempo News Room
|