|
Nusa
Polisi Sweeping Cari Pengunjuk Rasa Anti Toba Pulp Lestari
29 April 2003
TEMPO Interaktif, Medan:Polisi dan Brimob hingga Selasa (29/4) malam masih menjaga simpang Sirait Uruk dan kota Porsea. Meraka juga terus menyisiri setiap rumah untuk mencari aktivis pengunjuk rasa.anti PT Toba Pulp Perkasa (dahulu Indorayon) yang Selasa pagi bentrok dengan polisi. Pada sore harinya demonstrasi ratusan warga dilakukan di kantor Polsek Porsea. Mereka menuntut dilepaskannya J Hutahuruk, salah satu pentolan pengunjukrasa.
Menurut Markus, pastor Paroki Porsea, sejak pagi kondisi kota Porsea memang mencekam dan warga ketakutan setelah tindakan brutal aparat keamanan yang membubarkan unjuk rasa. “Petugas keamanan seperti tak peduli lagi tua muda, mereka membabat dengan poporan senapan sampai membuat nenek-nenk terluka dan ada yang tertembak,” katanya. Dijelaskan Markus, peristiwa itu dipicu oleh arogansi Toba Pulp Lestari yang dibeking aparat untuk beroperasi kembali.
Memang dalam unjuk rasa di halaman pabrik TPL di Porsea, Kabupaten Toba Samosir (sekitar 215 km dari Medan), ratusan warga memblokir setiap kendaraan milik perusahaan yang melewati kawasan tersebut. Pada pukul 09.30 WIB, sekitar 500 warga berkumpul di simpang Sirait Uruk dan menghadang truk yang dikawal Brimob yang mengangkut bahan baku kayu ke pabrik pulp yang baru beropearsi Maret.
Aksi memanas ketika truk menerobos kerumunan massa yang memblokir jalan. Terjadi perlawanan sehingga mengakibatkan jatuh korban di kalangan warga. Ada 15 ibu-ibu luka yang nyaris ditabrak truk yang menerobos kerumunan. Lalu Ompung Risma boru Manurung (70 tahun) tertembak di telapak tangan kiri dan diraat di rumah sakit Harapan Pematang Siantar. Ada juga pastor Ivo Sinaga, luka memar dipukul aparat keamanan, Tonggang Sitorus, dipukul popor senapan dan ditahan di Polsek Porsea dan J Hutauruk,, luka memar.
Menurut Efendi Panjaitan, anggota Dewan Nasional Walhi kalau aksi ini sudah menjurus. “Kami menyayangkannya apalagi sampai petugas melakukan sweeping dari rumah ke rumah,” ujarnya. Bayangkan nenek-nenek harus jadi korban kekerasan. Bagaimana pun warga akan tetap melakukan aksi sampai pabril TPL tutup. “TPL tetap arogansi dan tak pernah berubah,” katanya kesal. (Bambang Soed—Tempo News Room)
|