|
Banjir Bandang di Banggai Meluas
Kamis, 10 Juli 2008 | 19:31 WIB
TEMPO Interaktif, Luwuk:Banjir bandang di wilayah timur Sulawesi Tengah, makin meluas. Di Kabupaten Banggai Selasa dan Rubu lalu hanya wilayah kecamatan Batui yang tergenang air,namun Kamis (10/7) meluas sampai Kecamatan Nuhon dan Toili. Palu-Luwuk pun putus.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, dua unit rumah terseret air puluhan meter. Akibatnya rumah itu hancur berantakan hingga hanyut bersama air bah. Banjir juga menghanyutkan satu orang warga bernama Halim (39). Ia kini belum ditemukan.
Arman Mokendji salah satu warga Luwuk yang berada di lokasi banjir mengungkapkan, hingga pukul 16.00 waktu Wita luapan air sudah mencapai pinggang orang dewasa di desa Bakung, Gori-Gori, dan Desa Suka Maju.
"Di Desa Suka maju, 200 warga harus mengungsi ke daerah ketinggian, Ini memprihatinkan," kata Arman. Luapan air yang menerjang tiga kecamatan ini menghanyutkan jembatan di Nuhon,Desa Tobelombang, dan jembatan di Kecamatan Batui.
Putusnya jembatan membuat lalu lintas dari Palu dan kabupaten lain seperti Parigi Moutong, Poso, Tojo Una-Una menuju Luwuk, terganggu.
Wakil Bupati Kabupaten Banggai Musdar M Amin mengatakan, banjir disebabkan curah hujan yang tinggi beberapa waktu terakhir. Hujan deras yang turun terus menerus selama tiga hari terakhir menyebabkan beberapa sungai yang mengalir melalui tiga kecamatan ini seperti Sungai Tobelombag, Toili dan Batui, meluap.
Air laut yang naik juga membuat ketinggian air bertambah dalam waktu cepat. Banjir bandang juga mengamuk di wilayah Tojo Una-Una. Di wilayah Podi air meluap sampai beberapa ratus meter di perkampungan penduduk.
Banjir itu membawa material berupa pasir dan lumpur. Luapan sungai itu menutup badan jalan sehingga mengganggu para pengguna jalan.
Sejumlah angkutan umum terpaksa menunggu berjam-jam untuk bisa menembus luapan sungai itu. Beberapa sopir kendaraan rental yang baru tiba di Palu, semalam mengatakan, kendaraannya tidak bisa melanjutkan perjalanan ke kota Ampana, akibat air Sungai Podi sangat deras dan membawa material bumi.
"Sudah lebih satu kilometer badan jalan di sana tertutup batuan, kerikil, disertai pepohonan tumbang. Air sungai pun terbelah dua dan mengalir sangat deras, sehingga para sopir kendaran angkutan penumpang dan barang tidak berani melintas," tutur Uma.
Darlis
INDEKS BERITA LAINNYA :
|