Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Sulawesi Selatan

Makassar Bentuk Front Ganyang Malaysia
Sabtu, 05 Maret 2005 | 18:59 WIB

TEMPO Interaktif, Makassar: Berbagai elemen masyarakat Makassar membentuk Front Ganyang Malaysia Makassar (Front GAM), Sabtu (5/3). Front ini menghimbau pemerintah Indonesia untuk melakukan konfrontasi tahap kedua terhadap pemerintah Malaysia.

Pembentukan Front GAM merupakan reaksi keras masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel) menyikapi langkah Malaysia yang juga mengklaim kepulauan Ambalat sebagai wilayah teritorialnya. Pulau di perairan Selat Makassar itu disebut-sebut mengandung minyak.

Koordinator Front GAM, Das?ad Latief, menegaskan, klaim Malaysia atas kepulauan Ambalat sama saja telah menginjak-injak harga diri rakyat Indonesia. Menurutnya, Pulau Ligitan dan Sipadan merupakan contoh sikap sewenang-wenang pemerintah Malaysia sekaligus juga kelemahan pemerintah Indonesia. "Pemerintah sebaiknya memutuskan saja hubungan diplomatik dengan Malaysia. Kita tak mau kasus Ligitan dan Sipadan terulang kembali karena kelemahan pemerintah," ujarnya

Front GAM langsung menempuh langkah konfrontasi terhadap Malaysia dengan membentuk posko untuk menjaring relawan yang siap bergabung dengan Front GAM. Nantinya, para relawan diharapkan bisa melakukan perlawanan secara fisik untuk mengganyang Malaysia.

Menurut Das'ad, para relawan yang diharapkan ikut bergabung terutama diharapkan dari kalangan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang pernah bekerja di Malaysia. Alasannya, para eks TKI tersebut akan lebih paham kondisi dan situasi Malaysia.

Seorang pensiunan anggota Brimob Polri, Ahmad Sujono, mengatakan siap memimpin para relawan menggayang Malaysia. "Saya siap memimpin relawan untuk membela negara Indonesia tercinta," tegas Ahmad.

Anggota DPRD Makassar dari Partai Bulan Bintang, yang hadir dalam deklarasi Front ini, Zulkifli Azis, menyatakan dukungannya terhadap gerakan ini. Menurutnya, pemerintah menarik saja Duta Besar Indonesia di Malaysia dan menghentikan hubungan diplomatik dengan Malaysia. "Kalau langkah diplomasi sudah tidak bisa, maka wajib hukumnya warga untuk membela negara," ujar Zulkifli.

Irmawati

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Suasana acara Sidang ke-29 General Border Committee Malaysia - Indonesia di Hotel Shangri-La, Jakarta 16 November 2000 [Bernard Chaniago/ TEMPO; 31D/356/2000; 2000/12/6]. Presiden Soeharto didampingi Perdana Menteri (PM) Malaysia, Mahathir Mohamad di Kuala Lumpur, Malaysia, 1987. [TEMPO/ Ekram Husein Attamimi; 13D/067/1992; 20030131].
Presiden Soeharto

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pemerintah Tetap Pertahankan Ambalat
LSM Malaysia Bentuk Tim Pantau Operasi Tegas
AU dan AL Berbeda Soal Pelanggaran Pesawat Malaysia
Biaya Balik Lagi TKI Ilegal Capai Rp 4 juta
300 Pelintas Batas Asal Merauke akan Dipulangkan
Malaysia Tangkap Lagi 500 TKI Ilegal
LSM Malaysia Tuntut Pemerintah Selesaikan Kasus TKI di Damansara
Tidur di Hutan Menunggu Gaji
TKI Ilegal Terjaring Operasi Tegas
Indonesia Tetap Eksplorasi East Ambalat
> selengkapnya...


Website

Departemen Pertahanan
Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC)
The ASEAN Secretariat


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [4]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< March,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data