|
Nusa
Mitra Kerja Sumber Alam Sultra Pecat 161 Karyawannya
Sabtu, 25 Desember 2004 | 13:47 WIB
TEMPO Interaktif, Kendari: PT Sumber Alam Sultra, salah satu perusahaan mitra kerja konsorsium Artha Graha Grup, memberhentikan sebanyak 161 karyawan dan buruhnya. Perusahaan pengolah rotan di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, itu tak jadi beroperasi karena keberadaannya ditolak sebagian warga.
Penolakan itu antara lain berupa pemberitaan media masa setempat yang tidak menguntungkan perusahaan. "Ini merupakan puncak dari aksi solidaritas kami atas
adanya sejumlah pemberitaan di media lokal yang memojokkan konsorsium Artha Graha Grup selaku mitra kerja kami," ungkap Kepala Operasi PT Sumber Alama Sultra Bambang Setyo Aji kepada Tempo, Sabtu 25/12).
Menurut Bambang, kegiatan investasi konsorsium Artha Graha Grup kini kendor. Pemberhentian seluruh karywan dan buruh tak bisa dihindari. "Manajemen memutuskan menghentikan bisnisnya secara total." katanya.
Bambang menolak merinci berita media mana yang dinilai memojokkan konsorsium Artha Graha Grup. "Saya tidak berwenang untuk membeberkan hal itu," kilahnya. Bambang menambahkan, dari 161 karyawannya yang diberhentikan,
136 diantaranya berstatus buruh lepas, sisanya berstatus karyawan tetap.
Dampak lainnya, kini sekitar 900 petani dan pengumpul rotan di Kabupaten Konawe dan Konawe Selatan, kehilangan matapencaharian. Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, ratusan karyawan dan
Bambang memaparkan, besarnya pesangon disesuaikan dengan upah minimun regional Kota Kendari. "Gaji buruh terendah di perusahaan kami sekitar Rp 470 ribu per bulan. Sedang gaji tertinggi Rp 1 juta per bulan," katanya.
Bambang juga mengatakan, pihaknya tak bisa memastikan apakah perusahaannya itu nanti akan beroperasi kembali di
Kendari atau tidak. "Semua keputusan ada di tangan pemilik saham di Jakarta".
Beberapa buruh yang ditemui mengaku menyesalkan kebijakan perusahaan yang memberhentikannya. Mereka bingung bila tidak segera mendapatkan pekerjaan yang baru. "Anak saya lima orang. Empat di antaranya masih
sekolah," kata La Dio.
Agustina, 29 tahun, juga bingung. Ibu dua anak yang baru enam bulan bekerja mengaku kesulitan membiayai kedua anaknya yang masih kecil-kecil. "Dari mana lagi saya harus mencari makan," tangis Agustina yang mengaku berasal dari Kalimantan itu.
Dedy Kurniawan-Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|