|
Wali Kota Gorontalo Minta Pelengseran Dirinya Harus Melalui Proses Hukum
Sabtu, 04 Desember 2004 | 18:18 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Wali Kota Gorontalo, Medi Botutihe, mengatakan masalah melengserkan dari jabatan sebagai Wali Kota harus melalui proses hukum dan ada tata tertibnya. "Saya tidak tahu apa masalahnya, tunjukkan kesalahan saya apa," kata Medi, Sabtu (4/12). Menurut Medi, sebelum terjadi insiden penyerangan kampus dan rumahnya, telah dipersoalkan deposito atas nama Medi Botutihe qq Pemerintak Kota dan tanah kampus.
Tanah yang sekarang ada bangunan rumah Medi dan empat anaknya ini dianggap masih bagian dari areal Kampus Universitas Gorontalo. Dia mengatakan kronologis insiden ini dipicu sebuah rumah makan yang berdiri tak jauh dari kompleks Kampus. Karena tidak memiliki IMB (ijin mendirikan bangunan), pemilik rumah makan yang juga dosen di
Universitas Gorontalo telah diingatkan sebanyak dua kali.
Pemilik juga telah diingatkan untuk membangun rumah makan harus disesuaikan dengan sempadan jalan. Tanggal 23 November seharusnya rumah makan ini sudah dibongkar. Ini batal dilakukan karena pemilik akan membongkar sendiri rumah makan tersebut. "Ternyata, tidak dibongkar dan malah berorasi," ujarnya.
Soal rumah makan itu adalah masalah pemerintah kota. Tapi, belakangan persoalan sudah ke arah pribadi, melengserkan walikota. Ini yang menimbulkan keluarga Medi dari beberapa tempat, antara lain Suwawa, turun datang ke rumahnya. "Segala persoalan diselesaikan secara hukum. Digorok pun saya bersedia," kata Medi.
Soal kerusakan fasilitas kampus menjadi tanggungan Pemerintah Kota Gorontalo. Begitu juga dengan korban yang luka-luka baik mahasiswa dan para pendukung Walikota mendapat perawatan. Sebelum terjadi perusakan didalam Kampus massa yang mendukung Medi akan menuju Dewan Kota Manado. Massa ini telah mendatangi Polres Kota Gorontalo dan Kantor Walikota. Selanjutnya, akan menuju DPRD Kota Gorontalo.
Tapi, saat melewati Kampus Universitas Gorontalo dihadang dengan batu. Mereka turun dan terjadi baku lempar batu. Ini merembet sampai ke rumah pribadi yang juga dikepung dan dilempari dengan batu. Akibatnya, puluhan mahasiswa dan massa mengalami luka-luka akibat lemparan batu dan tusukan senjata tajam.
Verrianto Madjowa-Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|