|
Kampus dan Rumah Walikota Gorontalo Masih Mencekam
Sabtu, 04 Desember 2004 | 18:10 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Suasana kampus Universitas Negeri Gorontalo dan rumah pribadi Walikota Gorontalo, Medi Botutihe, masih mencekam, Sabtu (4/12). Ratusan mahasiswa berjaga-jaga di sejumlah ruang kuliah dan rektorat pasca serangan yang dilakukan sekelompok massa pendukung Walikota Medi, Kamis lalu. Massa yang sebagian preman itu merusak ruang kuliah dan laboratorium.
Di rumah Walikota Medi yang hanya berbatasan tembok pagar dengan Kampus Universitas Gorontalo juga dijaga ketat ratusan aparat keamanan dari Kepolisian Resort Gorontalo, polisi pamong praja dan sekelompok massa. Para penjaga ini berada di dalam rumah, halaman dan jalan raya. "Sebanyak 115 personil polisi menjaga rumah (Walikota Medi)," kata Kepala Bagian Operasional Kepolisian Resort Gorontalo, Ajun Komisaris Polisi Haddra D.
Pengamanan yang cukup ketat ini dilakukan untuk menjaga serangan mahasiswa ke rumah pribadi. Selain aparat dan sekelompok massa, terlihat juga dua unit mobil pemadam kebakaran. Mobil pemadam ini diparkir di halaman rumah Medi dan keluarganya. Rumah yang dikenal dengan sebutan "Cendana" ini memiliki luas 7000 meter per segi.
Di kampus Universitas Gorontalo, ratusan mahasiswa juga melakukan penjagaan. Tampak pula aparat Brimob melakukan penjagaan didekat Fakultas Teknik yang tak jauh dari rumah Medi. Fakultas Teknik termasuk ruang kuliah yang dirusak massa. Selain itu, kaca di Fakultas MIPA, Fakultas Sastra dan Budaya, Fakultas Pertanian, Bengkel Seni dan Kantor Cabang BNI. Mobil Badan Eksekutif Mahasiswa, sepeda motor dan bentor yang diparkir di halaman kampus juga dirusak.
Sekretaris Jenderal Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gorontalo Franky Laparaga menyesalkan pihak aparat kepolisian yang terkesan membiarkan sekelompok massa memasuki kampus dengan menenteng parang, pisau, samurai dan panah wayer. "Kita diserang, massa dengan leluasa membawa pisau, parang, samurai dan panah wayer ke kampus," katanya.
Mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo, Arifin Puluhulawa, mengatakan mahasiswa menuntut Walikota Medi
Botutihe meminta maaf. Para pelaku perusakan di kampus harus diusut dan mendapat sanksi. Secara moral politik, Walikota harus meletakkan jabatan. "Mundur sebagai Walikota," katanya.
Verrianto Madjowa-Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|