|
Sulawesi Tenggara
Ribuan Buruh Konsorsium AGG Terancam Kehilangan Pekerjaan
Selasa, 30 November 2004 | 09:14 WIB
TEMPO Interaktif, Kendari: Ribuan buruh yang bekerja di lebih 10 perusahaan yang merupakan mitra kerja dari Konsorsium Artha Graha Grup (AGG) di Sulawesi Tenggara terancam kehilangan kehilangan pekerjaan menyusul keputusan lembaga bisnis tersebut untuk menghentikan operasinya di seluruh wilayah provinsi tersebut. "Apa boleh buat, ribuan buruh termasuk para petani yang terlibat dalam bisnis yang kami investasikan di sini terpaksa harus kehilangan pekerjaan," kata
Koordinator Konsorsium AGG di Sulawesi Tenggara,
Robert Kasenda kepada Tempo di Kendari, Selasa
(30/11).
Menurut Robert, pihaknya belum merinci total buruh yang terlibat dalam sejumlah perusahaan yang merupakan mitra kerja AGG. Namun sebagai gambaran, khusus di PT. Sumber Alam Sultra (SAS), mitra kerja AGG yang bergerak di bidang usaha industri rotan ini, mempekerjakan sekitar 1.300 orang buruh termasuk para petani yang menyuplai bahan baku.
Jumlah itu belum termasuk dengan sekitar 500 buruh PT.
Bumi Artha Makmur (BAM) yang bekerja di proyek pembangunan hotel Kendari Beach, perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Konawe dan PT. Mega Graha Sultra serta PT. Kakao Sultra Prima, keduanya perusahaan pengolah biji kakao, di Kabupaten Kolaka. "Kami juga belum mendapat laporan terinci berapa jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam proyek pembangunan pelabuhan kontainer di Kota Kendari," ujarnya.
Menurut Robert, selain dampak langsung yang dialami
ribuan buruh yang bekerja di sejumlah perusahaan mitra
kerja AGG, ratusan penduduk di sekitar lokasi pabrik
yang membuka warung makan juga akan ikut terkena
imbasnya dari penghentian operasi tersebut.
Namun, dampak terberat akan dialami oleh Pusat
Koperasi Unit Desa (Puskud) Sulawesi Tenggara yang
terhitung sejak dua tahun terakhir bekerja sama dengan
PT. SAS mengolah rotan. "Sebelum kami masuk, Puskud Sulawesi Tenggara bisa dikatakan tak lagi punya kegiatan usaha. Tenaga kerjanya juga banyak yang menganggur. Tetapi setelah kami mengajak mereka bekerja sama, roda usaha Puskud hidup kembali," kata Robert.
Adanya keputusan menghentikan seluruh operasi
mitra kerja AGG itu, kata Robert, bisa dipastikan,
akan langsung mempengaruhi roda usaha yang sedang
dikembangkan Puskud. Bahkan dikhawatirkan, bisa ikut
berhenti beroperasi.
Robert mengatakan, rata-rata produksi rotan yang
dihasilkan PT. SAS bersama Puskud Sulawesi Tenggara
setiap bulannya mencapai sekitar 100 hingga 200 ton.
Rotan-rotan olahan itu diantarpulaukan ke Surabaya dan
lalu disalurkan ke sejumlah usaha kerajinan di Pulau
Jawa.
Ratusan petani yang selama ini menjadi penyuplai rotan
mentah bagi PT. SAS juga akan ikut terkena dampaknya.
Sebelum PT. SAS masuk, rotan milik petani hanya dihargai Rp. 1.800/kg oleh para pedagang pengumpul atau tengkulak. Tetapi, setelah PT. SAS masuk, kata Robert, pihaknya menaikkan harga beli rotan mentah para petani itu menjadi Rp. 2.500/kg. "Dengan penghentian operasi PT. SAS ini berarti yang senang adalah para pedagang pengumpul dan tengkulak karena mereka bisa menetapkan harga semaunya. Kasihan kan para petani-petani itu," kata Robert.
Khusus untuk PT. Mega Graha Sultra dan PT. Kakao
Sultra Prima, Robert mengatakan, kedua perusahaan yang
mengelola biji kakao itu, setiap bulannya mampu
mengekspor kakao antara 500 hingga 1.000 ton dengan
negara tujuan utama Malaysia. Bahkan, kedua perusahaan
itu berencana dalam waktu dekat akan menaikkan
kapasitas produksi mereka. "Tapi dengan tidak adanya jaminan berinvestasi yang diperlihatkan Pemerintah Kota Kendari, kedua mitra kerja kami itu akan ikut juga menghentikan operasi bisnisnya. Kami sangat kecewa, untuk bicara pun kami sudah cape," ujar Robert.
Terkait dengan penghentian operasi bisnis PT. SAS,
pernyataan Robert itu dibenarkan oleh Andi Makkarado
dan Haji Toha. Kedua orang itu merupakan koordinator
sekitar 700 petani yang menjadi penyuplai rotan mentah
bagi PT. SAS di Kabupaten Konawe.
Secara kebetulan, keduanya bertandang ke kantor pusat
Konsorsium AGG di Kendari untuk mempertanyakan
kebenaran dihentikannya operasi PT. SAS. "Kami sangat
kecewa dengan dihentikannya operasi PT. SAS. Kami
harap keputusan itu bisa diubah kembali," kata kedua
orang itu.
Dedy Kurniawan - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|