|
Sulawesi Tengah
Polisi Bantah Tembak Warga Donggala
Kamis, 04 November 2004 | 16:03 WIB
TEMPO Interaktif, Donggala:Kapolda Sulawesi Tengah, Brigadir Jenderal Aryanto Sutadi membantah tuduhan bahwa tewasnya dua warga Sidondo Asdar dan Asdin, karena ditembak oleh anggota polisi. Menurut Kapolda Aryanto, berdasarkan hasil otopsi
terhadap kedua jenazah tersebut, ditemukan bahwa bekas
tembakan di dada dan pinggang korban, adalah dari
peluru senjata dum-dum (rakitan).
Peluru senjata rakitan itu terbuat dari paku, potongan besi dan pecahan botol yang dicampur jadi satu."Kalau kedua warga itu ditembak oleh polisi, maka bekas lukanya akan tampak jebol. Artinya, luka kecil di bagian depan, tapi terdapat lobang besar di bagian belakang yang tertembus peluru,"ujar Kapolda kepada wartawan Kamis (4/11).
Menurut Brigjen Aryanto, polisi telah memeriksa
satu regu polisi atau sekitar 10 orang yang mengejar
kedua korban itu ke arah gunung saat terjadi chaos.
Dari hasil pemeriksaan itu, tak satu pun yang mengaku
menembak kedua warga tersebut. "Ini bukan membela anggota saya. Tapi dari hasil pemeriksaan, semuanya mengaku bahwa mereka tidak menembak dan mereka menunjukkan isi megazen senjata yang pelurunya masih lengkap,"kata Sutadi. Yang menembak itu hanya komandan regunya. "Tapi itu pun hanya tembakan peringatan," tambahnya.
Setelah diotopsi kedua jenazah warga Sidondo langsung diserahkan ke pihak keluarganya pada Rabu malam lalu. Namun, dalam perjalanan, polisi membatalkan niatnya itu dan mayat hanya disimpan sementara di kantor Polsek Dolo. Kamis ini kedua jenazah itu baru diantar ke Sidondo. Begitu jenazah tiba di rumah duka, pihak keluarga langsung menyambutnya dengan teriakan histeris. Bahkan, tiga perempuan saudara korban sampai jatuh pingsan.
Massa yang memadati rumah korban Asdar, tidak mampu
menahan emosinya. Warga lalu berteriak-teriak dan
memaki-maki polisi. "Polisi biadab. Polisi kurang
ajar, Polisi pembunuh. Darah harus dibalas darah.
Polisi tidak adil," teriak warga saat berdatangan ke
rumah Asdar.
Warga juga marah karena mereka melihat dada jenazah
Asdar dan Asdin, terbelah. Mereka menuding polisi
telah menganiaya dua orang itu dengan cara membelah
dadanya. Namun polisi menjelaskan bahwa itu untuk
keperluan otopsi. Setelah menjelaskan seperti itu,
warga kemudian tenang.
Ny. Awalina (istri Asdin) kepada wartawan di rumahnya
mendesak polisi agar penembakan terhadap suaminya
diusut. "Saya meminta keadilan," isak Ny Awalina
sambil menggendong anaknya.
Hingga pukul 14.00 Wita, konsentrasi massa masih
btetap terlihat di Desa Sidondo I. Aparat keamanan
dari Polres Donggala, Polresta Palu dan Polda Sulteng
masih tetap berjaga-jaga di lokasi. Kemarin, polisi
juga telah menurunkan anjing pelacak untuk mencari
mayat Sabri yang diduga hilang empat hari sebelumnya.
Kematian Sabri, warga Desa Sidondo I inilah yang
menjadi pemicu terjadinya bentrok antarwarga Desa
Sidondo I (suku Kaili) dan Sidondo II (suku Bugis).
Bentrokan di Desa Sidondo I ini terjadi pada Rabu
(3/11) lalu. Dalam bentrokan itu, dua anggota polisi
luka karena kena tebasan parang warga, sementara dua
warga setempat tewas kena tembak. Keduanya adalah
Asdar dan Asdin.
Kepala Desa Sidondi I, Abbas A. Rahman tidak bisa
menjamin situasi di aman kampungnya itu. "Saya tidak
mampu mencegah kalau massa melakukan hal-hal yang
tidak diinginkan,"kata Kepala Desa Abbas.
Darlis
INDEKS BERITA LAINNYA :
|