|
Sulawesi Tengah
Gempa di Palu 5,3 Skala Richter Rabu Pagi
Rabu, 03 November 2004 | 16:01 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Warga Kota Palu dan sekitarnya pada Rabu (3/11) sekitar pukul 05.45 Wita, dikagetkan dengan gempa bumi. Akibatnya sebagian warga Palu yang baru saja beristirahat setelah Shalat subuh, langsung lari berhamburan ke luar rumah karena takut akibat guncangan yang keras.
Data dari Badan Meteorologi dan Geofisika di Bandara
Mutiara Palu menyebutkan, gempa yang terjadi selama
sekitar delapan detik itu, berkekuatan 5,3 pada skala
richter, terletak pada episentrum 094 Lintang Selatan
dan 119,48 Bujur Timur di wilayah Pantai Barat,
Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.
Gempa yang dirasakan di Palu sekitar III-IV MMI itu,
berpusat di sekitar 37 kilo meter dari Palu. Belum
diterima laporan mengenai kerusakan yang diakibatkan
oleh gempa tersebut. Pihak Satkorlak Sulteng yang dikonfirmasi, mengaku belum menerima laporan mengenai kerusakan akibat gempa tersebut. "Memang, tadi subuh (Rabu, 3/11) saya rasakan goyangan sangat kuat. Tapi sampai sekarang kami di Satkorlak belum menerima laporan dari masyarakat mengenai kerusakan akibat gempa itu," kata Sekretaris Satkorlak, Frets Abbast.
Menurut Kepala Pusat Penelitian Kebumian dan Mitigasi Bencana Alam (PP BMBA) Universitas Tadulako (Untad) Palu,
Abdullah MT, Kabupaten Donggala adalah wilayah rawan terjadinya gempa bumi. Wilayah itu diklasifikasikan sebagai salah satu daerah yang memiliki titik gempa di
Sulawesi. Dalam hipotesis tektonik lempeng, sebelah
barat daya Kabupaten Donggala merupakan zona subduksi.
"Zona subduksi adalah salah satu pusat gempa tektonik. Zona ini terletak di perairan di sebelah baratdaya wilayah Kecamatan Banawa-ibukota Kabupaten Donggala. Gempa yang terjadi di zona ini, pusatnya dalam sehingga getarannya menjadi kecil setelah tiba di permukaan bumi,"katanya.
Lajur sesar ini relatif dekat dengan wilayah bagian selatan Kabupaten Donggala. "Meski begitu, di Teluk Palu masih lebih rawan dibanding titik gempa di Banawa,"kata Abdullah. Wilayah Teluk Palu dilintasi oleh lajur sesar yang menurut ahli geologi disebut lajur sesar (patahan)
Palu-Koro. Lajur patahan ini memanjang dengan arah
hampir utara-selatan, mulai dari pesisir timur Teluk
Bone sampai batas perairan Selat Makassar. "Gempa-gempa yang terjadi pada lajur patahan ini adalah gempa-gempa yang pusatnya dangkal sehingga getarannya tetap kuat setelah tiba di permukaan bumi,"kata Sarjana Fisika bidang khusus Fisika Bumi Unhas dan Magister Geofisika
Terapan ITB Ini.
Dalam penelitiannya, Abdullah MT juga menemukan
adanya patahan baru di wilayah Lariang-Pasangkayu,
Provinsi Sulawesi Barat. Bahkan, patahan ini lajurnya berarah utara-selatan Lariang -Pasangkayu. "Gempa-gempa yang terjadi di lajur ini juga adalah gempa-gempa yang pusatnya dangkal sehingga berpotensi merusak. Lajur patahan ini juga relatif dekat dengan wilayah bagian selatan Kabupaten Donggala,"katanya.
Wilayah ini menurut sejarah gempa, sudah beberapa kali
menimbulkan gempa besar, sebagian di antaranya
menimbulkan tsunami. Namun tidak menimbulkan hilangnya
air dalam pori-pori tanah pada saat gempa atau disebut
Liquifaksi. "Salah satu gempa besar yang pernah terjadi adalah gempa Donggala tahun 1927 yang diperkirakan berpusat di Watusampu. Gempa ini menimbulkan tsunami yang
menerjang wilayah pantai di sekitarnya,"kata Abdullah.
Darlis
INDEKS BERITA LAINNYA :
|