|
Sulawesi Selatan
DPRD Persoalkan Kunjungan 130 Kepala Desa ke Mega Center
Selasa, 07 September 2004 | 15:33 WIB
TEMPO Interaktif, Makassar:Anggota DPRD Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, mempersoalkan keberangkatan sekitar 130 kepala desa dan lurah se-Kabupaten Gowa ke Mega Center, Minggu (29/8) malam.
Dewan memanggil Kepala Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Gowa, yang menjadi koordinator pemberangkatan para kepala desa itu, dalam rapat dengar pendapat yang khusus digelar DPRD Gowa untuk membahas kasus itu, Selasa (7/9).
Selain PMD, hadir pula Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Gowa. Rapat itu merupakan rapat dengar pendapat pertama 45 anggota DPRD Gowa yang baru dilantik. Anggota Dewan curiga keberangkatan para kepala desa dan lurah se-Kabupaten Gowa ke Mega Center bermuatan politis.
Seorang anggota Dewan, Rahmansyah, mempertanyakan alasan Kepala Kantor Kabupaten Gowa, Abbas Hadi, memobilisasi kepala desa dan lurah ke Mega Center yang merupakan pusat koordinasi pemenangan calon presiden.
“Kalau alasannya untuk perubahan keputusan presiden, itu kan ada prosedurnya, misalnya melalui Bappenas, bukan kepala desa langsung ke presiden, apalagi ke Mega Center,” katanya.
Menurut Rahmansyah, dalam pertemuan itu diberitakan ada kepala desa dan lurah yang membacakan pernyataan sikap dukungan kepala calon presiden tertentu. Dewan, katanya, mempertanyakan dalam kapasitas apa kepala desa dan lurah itu berbicara. Sebab, tidak mungkin mereka diterima jika datang sebagai pribadi. Sehingga, menurutnya, kepala desa yang memberikan pernyataan dukungan bukanlah pernyataan pribadi.
Sekitar 20 anggota DPRD Gowa angkat bicara dalam forum dengar pendapat itu. Sorotan mereka nyaris sama, yakni mencurigai keberangkatan kepala desa dan lurah ke Mega Center bermuatan politis, untuk memenangkan calon presiden tertentu. Apalagi, beredar isu kalau setiap kepala desa dan lurah menerima Rp 1 juta, jam tangan, dan bingkisan.
Kepala PMD Gowa, Abbas Hadi, membantah kalau kunjungannya ke Mega Center bermuatan politis. Menurutnya, tidak ada sama sekali unsur mobilisasi dalam kunjungan itu. Sebab, sebelumnya sudah dilakukan persuratan ke Sekretariat Negara agar bisa diterima beraudiensi.
“Kami ke Mega Center bukan untuk bertemu calon presiden, tetapi untuk bertemu Presiden Megawati. Kalau yang menilai itu sulit dipisahkan, itu merupakan persoalan penafsiran,” katanya.
Dalam kesempatan itu Abbas menegaskan tujuannya ke Mega Center untuk mendesak perubahan Keppres 80, yakni agar subsidi desa dan proyek senilai Rp 50 juta diberikan kembali dan langsung diserahkan ke Badan Usaha Milik Desa (BUMD).
Saat diterima Adang Ruchyatna di Mega Center, kata Abbas, memang ada kepala desa dan lurah yang menyampaikan peryataan dukungan kepada calon presiden Megawati. Menurutnya, hal itu merupakan persoalan pribadi dan dirinya tidak bisa melarangnya.
Sementara Lurah Bontoparang, M Saleh Saud, salah satu lurah yang ikut ke Mega Center, membantah kalau dirinya menerima bingkisan dari Mega Center, seperti jam tangan atau uang Rp 1 juta. Meski demikian, menurutnya, ia mendengar cerita di antara sesamanya kepala desa, ada yang menerima bingkisan.
Saleh menambahkan, kunjungan ke Mega Center di luar agenda semula yang disusun dari Makassar. Ia tidak tahu idenya datang dari mana untuk datang ke Mega Center. Sebab, dalam rencana kegiatan perjalanan yang diterimanya, kunjungan ke Jakarta hanya untuk jalan-jalan dan berbelanja. Agenda itu dijadwalkan usai Gelar Nasional Teknologi Tepat Guna di Mataram.
Irmawati - Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|