|
Sulawesi Tenggara
Mahasiswa Unhalu Tuntut Kapolda Mundur
Senin, 23 Agustus 2004 | 15:53 WIB
TEMPO Interaktif, Kendari:Buntut penembakan aparat kepolisian terhadap dua orang warga Sampolawa, Kabupaten Buton, sekitar pukul 10.00 WITA, ratusan mahasiswa Universitas Haluoleo (Unhalu) Kendari mendatangi kantor Kepolisian Daerah Sultra, Senin (23/8). Mereka menuntut agar Kapolda Brigjen Pol Teuku Ashikin Husein segera mundur dari jabatanya.
Mahasiswa melakukan long march dari kampus baru Unhalu sampai simpang empat Wua-Wua tepatnya dekat kampus PGSD Unhalu dan melakukan orasi secara bergantian. Selanjutnya massa bergerak menuju Polda Sultra dengan menggunakan puluhan kendaraan mobil dan motor.
Sepanjang jalan menuju kantor Polda Sultra, massa mahasiswa ini berorasi sambil meneriakkan kecaman terhadap tindakan respresif aparat kepolisian terhadap warga Sampolawa yang berunjuk rasa di Mapolsek Sampolawa pada Selasa (17/8) lalu.
"Sudah banyak kasus aparat kepolisian bukannya sebagai pelindung atau pengayom tapi malah menganiaya masyarakat. Ini membuktikan bahwa aparat tak lagi bersikap profesional dalam menjalankan fungsinya. Jika sudah seperti ini, Kapolda sebagai pemegang kekuasaan tertinggi polisi di wilayah ini harus mundur dari jabatannya," kata Wakil Ketua BEM Unhalu, Hasan Ara.
Menurutnya, tindakan penganiayaan, penembakan dan penangkapan terhadap warga Desa Tira, Kecamatan Sampolawa adalah tindakan melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Namun, begitu, lanjutnya, sebelum mengundurkan diri, Kapolda terlebih dahulu memecat Kapolsek Sampolawa dan Kapolres Buton sebagai konsekuensi pertanggungjawaban institusi.
Setibanya di kantor Polda Sultra, mahasiswa hanya membacakan pernyataan sikapnya sebanyak lima poin. Salah satu poin pernyataan tersebut menegaskan, Kapolda Sultra segera mundur dari
jabatannya.
Di samping membacakan pernyataan sikap, mahasiswa juga melakukan hening cipta serta membacakan sumpah mahasiswa yang dipimpin oleh koordinator lapangan Suharmin Arfa. Hening cipta tersebut dilakukan sebagai salah satu bentuk keprihatinan mahasiswa terhadap berbagai tragedi kemanusian yang dilakukan oleh oknum kepolisian terhadap masyarakat terutama masyarakat Sampolawa.
Kapolda Sultra Brigjen Pol. Teuku Ashikin Husein yang ditemui kemarin menegaskan, pihaknya tidak pernah berupaya melindungi aparatnya yang melakukan tindak pidana ataupun kekerasan terhadap masyarakat.
"Buktinya kami sudah menahan aparat kepolisian yang diduga melakukan pemerkosaan itu. Soal adanya penembakan, kami hanya memberi tembakan peringatan, jadi itu hanyalah peluru nyasar," jelasnya.
Dedy Kurniawan - Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|