|
Sulawesi Tengah
Polisi Sulteng Dinilai Salah Tembak
Jum'at, 30 Juli 2004 | 16:14 WIB
TEMPO Interaktif, Palu:Kepolisan Daerah Sulawesi Tengah dinilai salah tembak terhadap Bambang (27) yang diduga tersangka penembakan Pendeta Susianty Tinulele STh Minggu (18/7) lalu.
Keluarga Bambang, Kamal (35) mengatakan kepada wartawan di kantor Lembaga Pengembangan hukum dan Hak Asasi Manusia (LPSHAM) Sulawesi Tengah, Jumat (30/7). Kamal berserta istrinya Cahyati didampingi lima orang saksi saat penangkapan Bambang datang ke LPSHAM untuk minta perlindungan hukum.
Kamal mengatakan, Kamis kemarin (29/7), ia didatangi belasan polisi dari Polresta Palu dan kemudian menggeledah rumahnya di Jalan Maleo no 90 Palu
Selatan. Dalam penggeledahan tersebut polisi tak
menemukan barang bukti berupa senajata dan bahan
peledak lainnya.
Menurut Kamal pada Kamis malam, ia mendatangi Polresta Palu atas penetapan dirinya sebagai tersangka sebagimana dalam surat perintah penggeledahan Rumah bernomor Pol:
SP.Dah/002/VII/2004/Reskrim yang ditandatangani
Kapolresta Palu AKBP Noman Siswandi.
Dengan penetapan dia sebagai tersangka, katanya
seluruh keluarga besarnya menjadi resah. Apalagi
anaknya berjumlah tiga orang yang kini sudah sekolah
di SMA merasa takut ke sekolah. "keluarga Saya menjadi
resah karena saya diduga melakukan pembunuhan tehadap
Pendeta Susianti" Katanya.
Selama hidupnya, kata pengungsi asal Poso ini, tidak
pernah melakukan pembunuhan. Sehari-harinya kata dia
hanya mengurus perusahaannya yang bergerak dibidang
kontraktor. Hubungannya dengan Bambang kata dia adalah
sebagai pekerja di perusahaannya. "Bambang sudah saya
anggap keluarga saya karena anaknya rajin dan patuh, "katanya.
Sementara itu Anwar salah seorang kawan Bambang yang
juga karayawan PT Cipta Mori Utama milik Kamal
mengaku pada malam kejadian penembakan Pendeta Susi, dirinya bersama Bambang dan karyawan lainnya sedang duduk-duduk di teras rumah Kamal di Jalan Tombolotutu. Pada saat itu karena ada hujan sehingga ia bercerita sampai pukul 21.00 malam. Ia mendengar cerita penembakan dari anak Kamal sekitar pukul 22.00 wita
Karena itu pihaknya merasa heran bila Bambang yang
dikenalnya sebagai anak yang lugu terlibat dalam
penembakan tersebut. "Saya heran kenapa dia
terlibat padahal malam itu saya bersama dia,"
tekannya.
Sementara itu rekan sekerja Bambang, Anton
menceritakan pada saat penggebrekan di Moko,
Kecamatan Lore Utara sekitar pukul 17.00 Kamis
kemarin mereka sedang makan. Saat itu polisi
langsung mengepung camp pekerja PT Cipta Mori Utama
milik Kamal. Bambang kata Anton langsung ditangkap
dan kakinya diinjak. Setelah itu terdengar bunyi
tembakan tiga kali. Anwar teman sekerja Bambang
melihat paha dan pantat Bambang berdarah.
Kapolda Sulteng Brigjend Pol Taufk Ridha saat dicegat
untuk dimintai konfrimasi tak tak mau memberikan
keterangan. Ia seakan menghindar kepada sejumlah
wartawan yang mencegatnya usai salat Jumat di Mapolda
Sulteng.
Juru bicara Polda Sulteng, AKBP Victor Batara juga tak mau memberikan komentar atas dugaan polisi salah tembak ini.
Direktur LPSHAM Sulteng, Syamsu Alam Agus mengartakan,
pihaknya akan menyampaikan protes kepada Polda Sulteng
karena terkesan gegabah dan emosional dalam melakukan
pengejaran terhadap pelaku penembakan Pendeta Susianty. Ia
menilai Polda Sulteng tidak akurat dalam mengambil
kesimpulan yang menyatakan Bambang dan Kamal sebagai
tersangka penembakan tersebut. "Polda emosional karena
itu wajar saja bila masyarakat agak enggan terbuka
memberikan informasi karena main tembak," Katanya.
Darlis - Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|