|
Sulawesi Tengah
Polisi Identifikasikan Penembak di Gereja Effatha Palu
Rabu, 21 Juli 2004 | 16:53 WIB
TEMPO Interaktif, Palu: Berdasarkan keterangan 15 saksi yang sudah diperiksa, Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah menetapkan seorang tersangka pelaku penembakan di Gereja Effatha, Jalan Banteng, Kecamatan Palu Selatan, Minggu (18/7). "Tersangka berinisial F alias A, dan sekarang masih berada di sekitar Kota Palu dan Donggala," kata Brigadir Jenderal Taufik Ridha, Kepala Polda Sulawesi Tengah di Palu, Rabu (21/7).
Tersangka F diidentifikasikan sebagai warga Palu yang merupakan anggota kelompok tertentu. Tapi, kelompok apa yang dimaksudkan, polisi tidak menjelaskannya. Yang jelas, polisi masih menyelidiki keterkaitan tersangka dalam beberapa kasus penembakan dan pemboman di Kota Palu dan di Poso, seperti penembakan Jaksa Ferry Silalahi pada Mei lalu dan penembakan di Gereja Pantekosta Dusun Maranda, Kecamatan Poso Pesisir saat malam Paskah lalu.
"Keterkaitan itu bisa terungkap dari hasil penelitian barang bukti berupa selongsong peluru dan peluru aktif yang ditemukan di tempat kejadian perkara," kata Taufik. Sejauh ini diketahui, peluru yang digunakan untuk menembak Jaksa Ferry Silalahi adalah peluru berkaliber 38 milimeter yang biasa digunakan untuk senjata revolver, sementara penembakan di Gereja Effatha menggunakan peluru berkaliber 5,56 milimeter yang digunakan untuk senjata laras panjang.
Saat ini, situasi di Kota Palu dan Poso sudah normal, aktivitas masyarakat tetap lancar. Tampak di sejumlah gereja dan rumah warga berkibar bendera setengah tiang sebagai tanda penghormatan terhadap pendeta Susianty Tuinulele yang menjadi korban penembakan.
Sementara itu di Poso, sejak Selasa (20/7), justru terjadi perang isu pasca beberapa peristiwa pembunuhan, bom dan penembakan. "Ada isu penembakan di Toyado, Kecamatan Lage, pembakaran rumah penduduk di Desa Kilo, Poso Pesisir dan penyerangan yang sengaja dihembuskan untuk memancing masyarakat Poso melakukan balas dendam. Tapi syukurlah, masyarakat tidak terpancing isu itu," kata Kepala Bidang Humas Polda Sulteng, Ajun Komisaris Besar Polisi Victor D Batara.
Sampai saat ini, berbagai ungkapan simpati dan mengutuk terjadinya tindakan sadis, berdatangan baik dari sejumlah pendeta yang tergabung dalam Badan Kerjasama Umat Kristiani se Kota Palu, Pengurus Pusat Himpunan Pemuda Alkhairaat (HPA) -organisasi kepemudaan Islam terbesar di kawasan timur Indonesia yang berpusat di Palu-, Ikatan Pemuda Darud Dakwah Wal-Irsyad Sulteng dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sulteng
Darlis - Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|