|
Sulawesi Tengah
Wartawan Nuansa Pos Dicekek
Minggu, 09 Mei 2004 | 18:27 WIB
TEMPO Interaktif, Palu: Sekelompok orang tak dikenal mendatangi kantor redaksi Harian Nuansa Pos terbitan Palu, Sulawesi Tengah, yang beralamat di Jalan Pulau Halmahera, Palu Timur, Sabtu (8/5) malam. Bertindak ala preman, belasan orang tak dikenal itu kemudian mencekek leher Hanafi Sarro, wartawan harian kriminal itu.
"Kerah baju saya dicengkeram salah seorang dari mereka," kata Hanafi yang juga redaktur kota harian itu kepada para wartawan, Minggu (9/5). Hanafi mengatakan, kejadian terjadi sekitar pukul 00.30 WITA, disaat dirinya sedang sendirian melakukan pengeditan akhir. Tiba-tiba saja datang sekolompok orang yang tanpa basi-basi mencengkrem lehernya. Akibatnya, sampai sekarang Hanafi susah bernafas dan mengalami trauma. Tampak, Hanafi sering menutup mukanya ketika memberikan keterangan kepada wartawan, karena takut. "Saya trauma bang. Sepertinya saya tidak bisa menjadi wartawan lagi," kata Hanafi memelas.
Kedatangan belasan preman itu menyoalkan berita yang dilansir Nuansa Pos edisi Jumat 7 Mei 2004, tentang dugaan pemerasan yang dilakukan Ketua Gabungan Pengusaha Konstruksi (Gapensi) Kota Palu, Erwin Sumampouw. Dalam pemberitaan itu, Sumampouw meminta dana sebesar 16 persen dari total nilai setiap proyek kepada para pengusaha kontraktor yang pada saatnya dana itu akan disetor kepada para pejabat di Kota Palu.
"Perlakuan (pengancaman) ini tidak bisa diterima dan dikategorikan sebagai tindakan main hakim sendiri. Saya menduga, mereka (belasan orang itu) adalah orang-orang suruhan Erwin Sumampouw," kata Pemimpin Umum Harian Nuansa Pos, Bayu Alexander Montang. Sebenarnya, kata Bayu, pihaknya sudah memuat hak jawab yang disampaikan Sumampouw pada penerbitan Sabtu (8/5), berisi bantahan terhadap kasus tudingan pemerasan yang dimaksud. Dalam hak jawab itu, Sumampouw menyatakan, tindakan pemerasan yang dituduhkan kepadanya hanya isu yang dihembuskan oleh orang-orang yang tidak suka terhadap dirinya.
Rencananya, Bayu Montang akan membawa kasus ini ke tingkat hukum agar masyarakat tidak boleh bertindak sewenang-wenang. Dirinya juga minta agar dewan kehormatan pers, organsiasi wartawan seperti PWI dan AJI mau melakukan advokasi terhadap kasus ini. "Kami minta AJI atau PWI bersedia mengadvokasi kami," kata Bayu.
Darlis - Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|