Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Sulawesi Tenggara

Caleg Golkar Sulteng Ancam Boikot Kampanye Wiranto
Minggu, 09 Mei 2004 | 16:18 WIB

TEMPO Interaktif, Kendari: Munculnya ketidakpastian calon legislatif (caleg) Partai Golkar dari Sulawesi Tenggara untuk kursi DPR-RI, membuat tim sukses salah seorang caleg mengancam akan memboikot seluruh kampanye calon presiden (capres) Wiranto di Sulawesi Tenggara. "Jika sampai akhir bulan ini tidak ada kejelasan sikap DPP Partai Golkar tentang siapa caleg yang lolos ke Senayan, kami akan memboikot pak Wiranto selama berkampanye capres di Sulawesi Tenggara," kata Muhammad Djusni, Koordinator Tim Sukses Djeni Hasmar, caleg Golkar Sulawesi Tenggara nomor urut 3-kepada TNR di Kendari, Minggu (9/5).

Djusni mempertanyakan, mengapa DPD dan DPP Partai Golkar terkesan sengaja mengambangkan persoalan itu. Ditambah lagi, Koordinator Wilayah (Korwil) Golkar Sulawesi, Andi Mattalatta dan Marwah Daud Ibrahim tidak mengeluarkan keputusan apa-apa. "Kami tahu, ibu Marwah Daud Ibrahim adalah keponakan Mustika Rahim, caleg Golkar yang merupakan saingan La Ode Djeni Hasmar. Tapi bukan berarti ia harus menunda keputusan hanya lantaran tantenya ikut menjadi Caleg yang perolehan suaranya sedikit kan?" kata Djusni.

Menurut Djusni, dari total hasil perolehan suara enam caleg Golkar Sulawesi Tenggara untuk kursi DPR-RI, tidak satupun mencapai Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) yang ditetapkan KPU setempat, yakni 161.165 suara. Tapi jika mengacu pada Undang-Undang nomor 12/2003, penetapan caleg yang lolos didasarkan pada nomor urut. Berdasarkan data KPU Sulawesi Tenggara, La Ode Djeni Hasmar yang menempati nomor urut tiga mendapat suara terbanyak yakni 54.911 suara, disusul Rustam Tamburaka (nomor urut satu) dengan perolehan 48.216 suara dan Mustika Rahim (nomor urut dua) sebanyak 38.788 suara. Tiga caleg Golkar lainnya hanya mendapat suara di bawah 20 ribu.

"Empat bulan sebelum pencoblosan suara 5 April lalu, enam caleg Golkar Sulawesi Tenggara itu membuat kesepakatan tertulis di hadapan notaris, berisi kesepakatan, penentuan siapa yang lolos ke Senayan berdasarkan suara terbanyak bukan nomor urut," kata Djusni. Saat kesepakatan yang dibuat di atas kertas bermaterai itu diteken, Mahadi Sinambela dan seorang pengurus DPP Golkar lainnya juga ikut menyaksikan. Tiga hari kemudian, kesepakatan tertulis itu diserahkan kepada KPU Sulawesi Tenggara yang kemudian menyetujuinya untuk sebagai dasar penentuan siapa yang lolos khusus untuk caleg dari Partai Golkar. "Dasar kesepakatan itu sangat kuat. Lalu mengapa penetapannya ditunda? Jika sampai Djeni Hasmar tidak lolos, apa boleh buat kami terpaksa akan memboikot capres Golkar," kata Djusni.

Soal kesepakatan itu, KPU Sulawesi Tenggara membenarkannya . "Jauh hari sebelum pencoblosan suara, kami menerima kesepakatan tertulis dari enam caleg Golkar yang isinya meminta penentuan lolos ke Senayan menggunakan dasar suara terbanyak," kata anggota KPU Sulawesi Tenggara, Eka Paksi. KPU sempat diminta membatalkan kesepakatan itu, yaitu ketika perhitungan suara usai pencoblosan dilakukan. Seorang caleg atas nama Rustam Tamburaka datang dan minta kesepakatan dibatalkan lantaran dirinya mengaku, ikut menandantanginya karena ditekan. "Tapi permintaan itu tidak kami perdulikan dan tetap menggunakan ksepakatan suara terbanyak sebagai dasar penentuan caleg Golkar yang lolos," kata Eka.

Sayangnya, pihak DPD Golkar Sulawesi Tenggara menolak berkomentar. Menurut Hino Biohanis, Ketua DPD Golkar Sulawesi Tenggara, pihaknya sedang membicarakan persoalan itu. "Kami belum bisa ambil keputusan. Tapi yang jelas, jika mengacu kepada UU Pemilu, harus berdasar nomor urut," katanya.

Jelas, Golkar Sulawesi Tenggara berada dalam posisi dilematis. Jika suara terbanyak dijadikan dasar pelolosan caleg ke DPR-RI, akan muncul gugatan dari puluhan calegnya, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota yang berhasil memperoleh suara terbanyak tapi tidak lolos karena kalah di nomor urut. "Hampir semua caleg Golkar provinsi dan kabupaten/kota yang lolos, perolehan suaranya sangat tidak memadai. Mereka diuntungkan nomor urut," kata seorang anggota Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Golkar Sulawesi Tenggara yang minta namanya tidak disebut.

Dedy Kurniawan - Tempo News Room

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Kini Giliran Tutut Unjuk Gigi
Pasangan Amien-Siswono Dideklarasikan
Gus Dur dan Tim 9 PKB Bertemu Kyai Khos
Duet Gus Dur-Sophan Didaftarkan Senin
Golkar Bahas Cawapres Malam Ini
Aliansi Partai Siapkan Pasangan Capres Alternatif
PWNU Jateng Tak Dukung Hasyim Muzadi
Kalla Minta Dukungan ke Pesantren
PKB Tetap Daftarkan Gus Dur
GP Anshor DIY Minta Hasyim dan Solahuddin Mundur
> selengkapnya...


Referensi

Jadwal Pemilu 2004 untuk Presiden dan Wakil Presiden
Jadual Pemilu 2004 untuk DPD, DPR dan DPRD
Perolehan Kursi Partai di DPR
NU Versus NU
Electoral Threshold
PP RI No. 9 Tahun 2004 Tentang Kampanye Pemilihan Umum Oleh Pejabat Negara
UU RI No. 4 Tahun 2000 Tentang Perubahan Atas UU No. 3 Tahun 1999 Tentang Pemilu
UU RI No.12 Thn.2003 Tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, Dan DPRD
> selengkapnya...

Website

Situs PKS di Belanda
Situs PKS di Jepang
Partai Demokrat
Departemen Dalam Negeri
Info Pemilu
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [0] komentar


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< May,2004>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data