|
Sulawesi Selatan
Kalla Minta Dukungan ke Pesantren
Sabtu, 08 Mei 2004 | 19:19 WIB
TEMPO Interaktif, Makassar:Kandidat wakil presiden, HM Jusuf Kalla, bertandang ke Pesantren Nahdatul Ulum di Kabupaten Maros, Sabtu (8/5). Kalla yang berpasangan dengan Susilo Bambang Yudhoyono juga melakukan pertemuan dengan sejumlah ulama dan kalangan umat Kristiani.
Di sela-sela kunjungannya ke Pesantren Nahdatul Ulum Maros, Kalla mengakui maksud kunjungannya itu untuk mencari dukungan dalam rangka sosialisasi pencalonannya dengan Yudhoyono dalam pemilihan presiden mendatang. Menurutnya, pertemuannya dengan ulama dan tokoh agama-agama di Indonesia Timur sudah merupakan pembagiaan tugasnya dengan Yudhoyono untuk menggalang dukungan dalam rangka pencalonannya.
Menurut Kalla, sebagai penasihat Nahdatul Ulama (NU) Sulsel, dirinya juga sekaligus melaporkan perkembangan situasi terakhir di tanah air. Kalla menegaskan, meski maju sebagai calon wakil presiden tetapi dirinya tidak mau menjadi ban serep. Makanya, ia melakukan pembagian tugas dengan Yudhoyono.
Kalla sendiri optimis bisa memenangkan pertarungan pemilihan calon presiden. Ia mengklaim Yudhoyono dan dirinya tidak punya kelemahan. “Kami berdua tidak punya kelemahan, tidak pernah korupsi, bukan pecundang. Kami datang langsung ke daerah-daerah konflik untuk membicarakan solusi penyelesaian konflik,” katanya.
Sementara itu, Ketua NU Sulsel KH Sanusi Baco mengatakan, massa NU Sulsel diberikan kebebasan untuk memilih calon-calon presiden. Meski Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi juga ikut bertarung, katanya, tidak ada keharusan bagi NU Sulsel untuk hanya memilih Hasyim.
Malah di antara tiga kader NU, yaitu Hasyim, Solahuddin Wahid, Jusuf Kalla, di mata Sanusi, Jusuf Kalla dinilai paling kapabel untuk menjadi pemimpin bangsa ini. Alasannya, terbukti selama ini track record Kalla sebagai tokoh nasional yang bersih. Ia juga banyak terlibat dalam penyelesaian konflik.
Dalam pertemuannya dengan tokoh-tokoh umat Kristiani di Hotel Sahid, Sekretaris Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Sulsel, mengutarakan bahwa umat Kristiani khawatir jika Yudhoyono-Kalla menjadi presiden dan wakil presiden maka akan diberlakukan syariat Islam di Sulsel seperti tuntutan selama ini.
Menjawab pertanyaan itu, Kalla menegaskan bahwa syariat Islam sudah menjadi hukum positif. Artinya, kata dia, statusnya lebih tinggi dari undang-undang. Kalla mengatakan, jika syariat Islam dijadikan peraturan daerah atau peraturan pemerintah maka statusnya akan turun lebih rendah dari undang-undang.
Pdt Daniel Sopamena mempertanyakan pasangan Kalla, Yudhoyono, yang berasal dari kalangan militer. Sopamena khawatir gaya militerisme nantinya akan kental jika duet Yudoyono-Kalla yang terpilih.
Ditanya begitu, Kalla meminta masyarakat tidak apriori dengan latar belakang militer. Sebab, banyak sipil yang lebih militer dari militer. Sebaliknya, lanjutnya, banyak pula militer yang lebih sipil dari sipil. “Pak Bambang Yudhoyono itu lebih sipil dari sipil,” katanya.
Irmawati - Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|