|
Sulawesi Tenggara
Mahasiswa Unjuk Rasa, Polisi "Menghilang"
Selasa, 04 Mei 2004 | 14:12 WIB
TEMPO Interaktif, Kendari: Akibat aksi unjuk rasa solidaritas tragedi UMI Makassar yang dilakukan sekitar 3.000 mahasiswa Universitas Haluoleo (Unhalu) Kendari hari ini (4/5), puluhan anggota kepolisian setempat yang biasanya bertugas di sejumlah pos penjagaan lalu lintas, "menghilang".
Informasi yang dihimpun menyebutkan, puluhan anggota
polisi itu sengaja ditarik ke markasnya di Mapolresta
Kendari guna menghindari bentrokan dengan massa
mahasiswa yang pada aksi unjuk rasa terlihat sangat
beringas.
Menurut pantauan Tempo News Room di lapangan,
mahasiswa pengunjuk rasa berorasi, lalu memblokir ruas jalan di depan Unhalu termasuk menutup gerbang
kampusnya. Akibatnya, seluruh aktivitas perkuliahan
terhenti. Ratusan mahasiswa yang dikoordinir Keluarga
Besar Mahasiswa (KBM) Unhalu lalu bergerak menuju ke
pusat kota.
Setibanya di depan pos penjagaan polisi di sekitar
Pasar Baru, ribuan mahasiswa itu berhenti. Sempat
berulang kali terdengar teriakan "Bakar, Bakar," namun
lantaran berhasil didinginkan oleh sejumlah pimpinan
lembaga kemahasiswa, rencana membakar pos polisi itu
dibatalkan.
Begitu pula saat melintas di depan dua pos jaga polisi
yang ada di sekitar kawasan pertokoan Wuawua. Sejumlah
mahasiswa sudah siap menyulutkan api di bangunan pos
jaga tersebut. Tapi, niat itu berhasil dicegah
sejumlah tukang ojek yang biasa mangkal di dekat dua
pos jaga tersebut. Namun, tak urung akibat aksi
mahasiswa itu sejumlah toko dan Supermarket terpaksa
menghentikan kegiatan perdagangannya.
Arus lalu lintas pun menjadi macet akibat aksi
mahasiswa tersebut. Kendaran terpaksa memutar
arah mencari ruas jalan yang tidak dilalui para
pengunjuk rasa. Sejumlah warga pengguna jalan
mengeluhkan aksi pemblokiran yang dilakukan mahasiswa
itu. "Okelah, saya juga setuju dengan aksi solidaritas ini tapi kan tidak perlu memblokir jalan sehingga kami
jadi terhalang ke kantor," kata Jakri Napu, warga setempat.
Setibanya di depan gedung sekretariat KONI Sulawesi
Tenggara di jalan Ahmad Yani, muncul seorang anggota polisi berpakaian seragam yang mengendarai sepeda motor jenis vespa. Massa sempat marah karena anggota polisi tersebut mengeluarkan kata-kata makian yang ditujukan
kepada para pengunjuk rasa.
Mendengar makian polisi itu, belasan mahasiswa
kemudian mengejar dan menghujani anggota polisi itu
dengan pukulan dan tendangan. Selain memukul, massa
mahasiswa juga merusak motor yang dikendarai anggota
polisi yang sedang naas itu. Akibatnya, sejumlah
bagian bodi motornya ringsek dihantam benda-benda
keras.
Beruntung, aksi pengeroyokan terhadap anggota polisi
itu berhasil dihentikan Ketua Badan Eksekutif
Mahasiswa (BEM) Unhalu, Marsudi Asinu yang langsung
memeluk anggota polisi itu guna melindunginya dari
hujanan pukulan massa mahasiswa yang marah. "Kita ini mau aksi damai. Kalau begini caranya kita bisa dituduh melanggar hukum juga," kata Marsudi.
Setelah aksi pemukulan terhadap anggota polisi itu
berhasil diredam, massa kemudian berencana mendatangi
markas Polresta Kendari. Sepanjang perjalanan, tak ada
satupun anggota polisi yang terlihat. Padahal
biasanya, setiap kali ada aksi unjuk rasa, puluhan
anggota polisi langsung muncul dan mengawal para
pengunjuk rasa.
Kemarahan massa kembali muncul saat bertemu tiga
anggota polisi lalu lintas yang berniat mengatur arus
kendaraan. Massa langsung mengejar polisi pengatur lalu lintas tersebut sambil mengacung-acungkan tongkat kayu dan sejumlah benda keras lainnya. Ketiga polisi itu pun memacu motor mereka meninggalkan lokasi aksi.
Begitu pula, saat massa mahasiswa tiba di depan kantor Kejaksaan Negeri Kendari. Belasan anggota polisi berseragam yang sedang berupaya mengalihkan arus lalu lintas juga mundur menghindari kejaran massa.
Menurut Koordinator pengunjuk rasa, Jumadi Siowan,
pihaknya sudah berupaya keras mencegah agar
rekan-rekannya tidak melakukan aksi kekerasan terhadap
anggota polisi. Namun, dirinya juga tak bisa
sepenuhnya menyalahkan tindakan rekan-rekannya itu.
"Siapa pun mahasiswa di Indonesia ini pasti akan marah
jika melihat perlakuan polisi terhadap kawan-kawan
kami di UMI Makassar. Anggap saja ini merupakan
tindakan peringatan bagi polisi agar mereka tak
sewenang-wenang lagi dalam menindak setiap aksi
mahasiswa," katanya kepada Tempo News Room di Kendari, Selasa (4/5).
Mahasiswa menuntut agar Presiden Megawati segera memerintahkan Kejaksaan Agung untuk memeriksa mantan Kapolda Sulsel Inspektur Jenderal Jusuf Manggabarani terkait kasus UMI Makassar. Selain itu, presiden juga dituntut untuk segera memberhentikan Kapolri Jenderal Da'I Bachtiar.
Dari pihak kepolisian sendiri tak ada informasi yang
diperoleh mengenai penanganan aksi unjuk rasa
mahasiswa tersebut. Seorang anggota polisi berpangkat
Brigadir Kepala (Bripka) yang tak mau namanya disebut
mengatakan bahwa ia dan rekan-rekannya memang segaja
diperintahkan mundur dan tak melayani provokasi atau
ejekan yang dilontarkan mahasiswa.
"Kami sangat sadar kasus yang terjadi di kampus UMI
Makassar itu masih meninggalkan luka di hati
rekan-rekan mahasiswa. Makanya wajar dalam aksi ini
mereka sangat marah kepada polisi. Untuk menghindari
bentrokan, pimpinan menyuruh kami mundur ke markas dan
saya pikir itu tindakan yang bijaksana," kata anggota
polisi tersebut.
Baik Kapolresta Kendari Ajun Komisaris Besar Polisi Joko Mulyono dan wakilnya Komisaris Polisi Ahmad Saury tak berhasil ditanya soal unjuk rasa hari ini. Menurut informasi yang diperoleh Tempo News Room menyebutkan, kedua perwira itu sedang mengikuti rapat tertutup penanganan aksi mahasiswa di markas Polda Sulawesi Tenggara.
Dedy Kurniawan - Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|