|
Makassar
Mahasiswa Sulsel Kutuk Penyerbuan ke Kampus UMI
Minggu, 02 Mei 2004 | 15:58 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Menyusul penyerangan polisi ke kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) yang menyebabkan puluhan mahasiswa terluka, mahasiswa kampus-kampus perguruan tinggi di Suawesi Selatan, Minggu (2/5), melakukan aksi solidaritas. Bahkan aksi tersebut sudah dilakukan sepanjang malam setelah mengetahui terjadi penyerbuan aparat kepolisian ke kampus UMI. Dalam insiden itu, 65 mahasiswa menderita luka-luka dan empat lainnya terkena peluru polisi.
Aksi solidaritas misalnya dilakukan Universitas 45, Universitas Muhammadiyah (Unismuh), dan Institut Agama Islam Negeri IAIN(Alauddin). Aksi yang dilakukan mahasiswa nyaris seragam yaitu dengan menutup jalan di depan kampus masing-masing dan membakar ban-ban bekas.
Aksi penutupan jalan dan pembakaran ban-ban bekas juga terjadi di depan kampus UMI, Jl Urip Sumoharjo hingga Universitas 45. Praktis suasana kendaraan di sekitar kampus-kampus itu menjadi lengang. Sebab, masyarakat sudah tertahan jauh sebelum mendekat ke sekitar kampus.
Di depan kampus Unismuh, Jl Sultan Alauddin, aksi ditandai dengan teatrikal. Mahasiswa mempertunjukkan bagaimana tindakan brutal aparat yang menyerang mahasiswa. Mereka melakonkan bagaimana mahasiswa dipukul, ditendang dan dikejar. Di antara mereka ada yang bertindak sebagai aparat yang bertindak represif.
Sehari setelah insiden tersebut, tersiar kabar di kampus UMI bahwa 5 mahasiswa yang sempat diidentifikasi menderita korban luka-luka, belum diketahui keberadaannya. Menurut koordinator aksi UMI, Dadang, lima rekannya yang mengalami luka-luka tidak diketahui keberadaanya. Padahal, pihaknya sudah melakukan pencarian ke beberapa rumah keluarganya dan teman-temannya.
Salah seorang mahasiswa yang hilang diketahui bernama Imran. Keluarga Imran, Budi, datang langsung ke kampus UMI untuk menanyakan mahasiswa tersebut. Namun, dia belum ada informasi jelas yang diperolehnya tentang keberadaan Imran. Ia juga mengaku sudah mencari ke beberapa rumah keluarga dan teman Imran.
Sementara itu, civitas akademika UMI, Minggu (2/5) siang, mengeluarkan pernyataan sikap institusi tersebut. Pernyataan itu diteken Rektor UMI, Dr HM Nasir Hamzah SE MSi, yang memuat tujuh butir sikap. Intinya, UMI mengutuk keras tindakan represif aparat keamanan. Selain itu, menuntut Kapolri menindak tegas aparatnya dan memprosesnya melalui hukum. Civitas akademika UMI juga mendesak Kapolri meminta maaf secara intitusional kepada media cetak dan elektronik lokal dan nasional.
"UMI mengutuk keras tindakan represif aparat keamanan yang berlebihan dan arogan, yang melanggar kehormatan institusi pendidikan dan Hak Azasi Manusia (HAM)," kata Lambang Basir, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UMI dalam jumpa persnya bersama seluruh pimpinan fakultas di UMI.
Namun saat jumpa pers itu masih berlangsung tiba-tiba terjadi ketegangan di kampus UMI dan Universitas 45. Akibatnya jumpa pers itu berakhir tanpa sesi tanya jawab. Wartawan yang meliput langsung berhamburan keluar ruangan. Begitupun mahasiswa dan para dosen. Sebagian mahasiswa tampak memukul-memukul tiang sebagai tanda bahaya.
Ketegangan tersebut dipicu oleh datangnya Pjs Kepala Polwiltabes Makassar, AKBP Ahmad A. Ahmad berkeinginan melewati rintangan yang dipasang mahasiswa Universitas 45. Sebagai pejabat sementara yang menggantikan Kombes Yose Rizal Effendi yang dinonaktifkan, ia bermaksud datang untuk berdialog sekaligus berdamai.
Kedatang Ahmad kontan mengudang reaksi mahasiswa. Para mahasiswa berlarian ke arah Universitas 45. Mereka meneriakan jihad melawan aparat keamanan. Toh, akhirnya Ahmad menyurutkan niatnya ke kampus Universitas 45. Mahasiswa pun kembali mundur ke depan kampus masing-masing.
Irmawati - Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|