|
Nusa
Menkopolkam Tunjuk Mediator Untuk Maluku
Kamis, 29 April 2004 | 15:49 WIB
TEMPO Interaktif, Ambon:Menteri Koordinator Politik dan Keamanan ad interim, Hari Sabarno, telah menunjuk Mantan Pejabat Gubernur Maluku, Sinjo Harry Sarundajang, untuk menjembatani komunikasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah Maluku. Sarundajang yang tiba hari ini, Kamis (29/4) di Ambon menegaskan keberadaan dirinya di Maluku tidak dalam posisi di jalur komando.
"Saya hanya diminta untuk menyampaikan apa yang perlu dilakukan di Maluku dan apa yang menjadi permintaan pemerintah daerah di sini untuk disampaikan kepada pemerintah pusat. Menteri meminta saya hanya satu sampai dua minggu saja disini, lebih cepat lebih baik," ujarnya kepada wartawan usai bertemu dengan Kepala Polda Maluku, Bambang Sutrisno.
Sarundajang juga menolak anggapan kedatangannya merupakan pernyataan mengenai ketidak mampuan pemerintah daerah Kepala Polda dan Panglima Kodam di Maluku dalam mengelola konflik yang terjadi dalam pekan ini. "Mereka mempunyai kemampuan dan saya lihat sendiri sudah bekerja siang malam. Hanya, memang kurang dan perlu ditambah personilnya,“ ujarnya.
Sarundajang tidak menjelaskan secara rinci tentang langkah-langkah apa saja yang akan dilakukannya dalam kunjungannya kali ini. Dia hanya meminta semua pihak untuk segera menghentikan kekerasan yang terjadi dan ikut menjaga agar konflik tidak muncul kembali.
Tentang apa saja yang akan dilakukan oleh pemerintah pusat sebagai tanggapan atas beberapa permintaan dan proses masyarakat Maluku yang mengeluhkan kelambatan antisipasi aparat keamanan dalam menangani konflik, Sarundajang juga tidak menjelaskan.
Sementara itu, dari tim informasi Keuskupan Amboina, diperoleh kabar masih terdapat beberapa umatnya yang hilang atau belum diketahui beritanya hingga hari ini berkaitan dengan aksi pembantaian dan penganiayaan yang terjadi pada Senin (26/4) pekan ini terhadap para penumpang Kapal Motor (KM) Doloronda di Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon.
Mereka yang hilang ada empat orang, yakni Merlina Setiajuru (21) asal Ruteng Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Martina Koteng (19) asal Larantuka, Flores Timur, Siltje Dasilva (20) asal Larantuka, Flores Timur dan Donatus Rabu (20) asal Rekas, Manggarai.
Sedangkan mereka yang selamat, dan sementara ini ditampung di Keuskupan Amboina masih terdapat empat orang lagi yang juga berasal dari Manggarai dan Flores. Selain itu, kemarin tim juga menemukan sesosok mayat laki-laki yang dimasukan dalam sebuah karung di sekitar jalan Setia Budi, Ambon. Mayat tanpa identitas itu diperkirakan berasal dari Nusa Tenggara Timur, dan hari ini telah dikebumikan di desa Soya, Ambon.
Pembantaian di KM Doloronda itu sendiri, terjadi menyusul konflik yang terjadi sehari sebelumnya yang melibatkan kelompok dengan menamakan diri front pembela NKRI yang menyerang arak-arakan para simpatisan Front Kedaulatan Maluku (FKM), yang menewaskan puluhan orang. Kekerasan di kapal itu sedikitnya 20 korban, tiga diantaranya ditemukan tewas, tujuh hilang dan 10 lainnya luka-luka.
Situasi di kota Ambon sampai siang ini terlihat tenang. Aktivitas masyarakat seperti di pasar, kantor-kantor dan sekolah tetap dilakukan seperti biasa meskipun beberapa ruas jalan masih belum bisa dilintasi, terutama di daerah-daerah perbatasan kedua komunitas. Suara tembakan dan ledakan bom yang sampai tengah malam tadi masih terdengar hingga siang ini sudah tidak ada lagi.
Tomi Aryanto – Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|