|
Sulawesi Tenggara
10 Persen Warga Sulawesi Tenggara Ahli Meracik Bom
08 April 2004
TEMPO Interaktif, Kendari: Hasil penyelidikan pihak intelijen Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara menyebutkan, sekitar 10 persen dari total 1,9 juta jiwa warga di provinsi tersebut diketahui ahli meracik bom. "Temuan itu merupakan hasil penyelidikan yang dilakukan pihak intelijen kami sejak saya menjadi
Kapolda di sini," kata Kapolda Sulawesi Tenggara
Brigjend T. Ashikin Husein kepada Tempo News Room di Kendari, Kamis (8/4).
Menurut Kapolda, pihaknya juga menggunakan data-data
yang diperoleh Polda Sulawesi Tenggara semasa dirinya
belum menjadi orang nomor satu di lembaga kepolisian
itu. Data-data tersebut, termasuk sejumlah kasus bom yang telah dan sedang diusut lima Polres yang ada di kabupaten/kota di daerah itu.
Temuan itu sendiri telah dilaporkan ke Mabes Polri untuk dijadikan data bagi lembaga kepolisian tertinggi di Indonesia itu.
Dari 10 persen warga Sulawesi Tenggara yang diketahui
ahli meracik bom itu, kata Kapolda, tidak ada satupun
yang menggunakannya untuk tujuan atau terlibat aksi
teroris. Mereka menggunakan atau memperjualbelikannya
hanya untuk kepentingan ekonomi saja. "Dari pengakuan para pembuat dan penjual bom atau bahan baku bom, mereka menggunakannya untuk mencari ikan di laut," katanya.
Tingginya harga jual bahan baku bom berupa pupuk yang
mengandung amonium nitrat di Sulawesi Tenggara dan
sejumlah daerah lainnya di Indonesia membuat para
pelakunya tertarik untuk memperdagangkannya.
Menurut Kapolda, para pembuat atau penjual memperoleh bahan baku bom berupa pupuk cap Obor dan Matahari yang mengandung amonium nitrat dari Malaysia atau Thailand seharga Rp 50 ribu per karung seberat 50 kilogram.
Setibanya di Indonesia, pupuk itu kemudian dijual lagi seharga Rp 300 ribu - Rp 400 ribu perkarungnya. "Nah, hitung saja sendiri berapa keuntungan yang didapat para pelaku pembuat dan penjual bahan baku bom itu jika mereka membawa puluhan karung pupuk dari Malaysia atau Thailand," kata Kapolda.
Namun, meski hanya untuk kepentingan ekonomi atau
hanya sekedar untuk mencari ikan di laut, polisi tetap
serius melakukan pengawasan. "Saat ini kami juga
sedang gencar melakukan penyisiran di di berbagai
tempat khususnya di daerah-daerah pesisir seperti di
Kabupaten Buton, Wakatobi dan Konawe," katanya.
Pada 2001 misalnya, polisi menyita sekitar 1.000 zak karung pupuk amonium nitrat di Kabupaten Buton.
Kapolda mengatakan, meski telah banyak menangkap pelaku pembuat dan penjual bahan baku bom, tapi pihaknya belum mencium indikasi keberadaan sindikat yang sengaja membuat atau memperjualbelikan bahan berbahaya tersebut untuk kepentingan teror.
"Hasil penyelidikan intelijen juga menyebutkan kalau
cara meracik yang digunakan para pelaku pembuat bom di
daerah ini kebanyakan menggunakan teknik tradisional,"
ujar Kapolda.
Adapun, kasus bom terbaru yang kini ditangai Polda
Sulawesi Tenggara adalah penemuan sembilan karung
bahan baku bom di Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe.
Dua orang pelakunya kini sudah ditahan dan sedang
menjalani pemeriksaan.
Dedy Kurniawan - Tempo News Room
|