Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Sulawesi Tengah

Harga Beras Anjlok, Petani Kehilangan Rp 85 Miliar
21 Desember 2003

TEMPO Interaktif, Parigi:Petani Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, 2003 ini kehilangan pendapatan sedikitnya Rp 85 miliar karena harga beras di daerah ini jauh di bawah harga standar yang ditetapkan pemerintah.

Harga di pasaran hanya sekitar Rp 1.400-Rp 1.800 per kilogram, padahal harga standar pemerintah Rp 2.790 per kilogram. Angka kerugian itu didapat dari surplus beras petani Parigi Moutong sebesar 86.270,5 ton

Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, dan Ketahanan Pangan Parigi Moutong, Nahyun Biantong, mengatakan nilai kerugian Rp 85 miliar itu dihitung dari selisih harga sekitar Rp 990 per kilogram dikalikan 86.270,5 ton.

"Angka ini setara dengan dana alokasi umum (DAU) untuk pembangunan Kabupaten Parigi Moutong tahun anggaran 2003," ujarnya.

Nahyun menyayangkan pihak Dolog Kabupaten yang merupakan lumbung padi Sulteng tak bisa mencairkan masalah ini. Pihak Dolog dalam pembelian beras dinilai terlalu banyak persyaratan teknisnya, seperti kadar air beras, tidak boleh pecah, dan semacamnya, yang menurutnya, terkesan diada-adakan. Padahal, katanya, beras Parigi sejak zaman dulu dikenal sebagai beras berkualitas tinggi.

Akibatnya, kata Nahyun, tiap tahunnya banyak petani mengubah sawahnya menjadi kebun coklat. Alih fungsi petani ini karena biaya produksi pengelolaan sawah hampir sebanding dengan pendapatan pascapanen.

Seorang petani, I Made Sukrana (42), mengatakan pihaknya terpaksa mengubah fungsi sawahnya satu hektare menjadi kebun coklat karena pendapatan dari kebun coklat lebih banyak dan kerjanya tidak terlalu berat. Ia merinci, tiap tahun pihaknya dua kali panen dengan penghasilan sekitar Rp 9 juta. Setelah beralih fungsi pendapatannya meningkat menjadi Rp. 16 juta.

"Selain itu kerja kebun coklat juga agak enteng, tidak seperti kerja sawah panas kepanasan, hujan kedinginan," katanya.

Menurutnya, saat di daerah Talai dan Sausu, wilayah persawahan terbesar di Provinsi Sulteng, sudah banyak warga yang mengikuti jejaknya, beralih fungsi dari persawahan menjadi kebun. Namun ia memastikan gejala ini hanya sesaat. Warga beralih fungsi karena frustasi melihat harga beras yang kian tak bermakna.

"Dari pembicaraan saya bersama kelompok tani di sana menyatakan alih fungsi hanya sesaat. Bila harga beras kembali normal, maka kami akan membuat kebun menjadi sawah kembali," katanya.

Bupati Parigi Moutong Longki Djanggola merasa prihatin dengan banyaknya sawah di Parigi Moutong telah beralih fungsi. Namun ia tak bisa menyalahkan warga karena memang kondisi harga berat. Karena itu pihaknya telah berkirim surat ke Menteri Pertanian agar sedikit menghargai jerih payah petani.

"Saya sudah ke Jakarta ketemu Pak Menteri, tapi Pak Menteri ke luar negeri, tapi saya akan ke Jakarta mendesak pemerintah pusat memikirkan nasib petani," katanya.

Salah satu jalan keluar yang ditawarkan Longky adalah surplus beras di daerahnya dimanfaatkan untuk beras rakyat miskin (raskin). Selama ini, kata dia, daerahnya juga mendapat jatah raskin, padahal daerahnya sudah surplus beras. "Kalau bisa raskin untuk daerah Parigi Moutong diberikan dalam bentuk dana ntuk pembelian surplus beras," tuturnya.

Darlis - Tempo News Room

Kirim Komentar   | Baca Komentar

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
Berita Terkait

Menperindag: Tata Niaga Beras untuk Menstabilkan Harga
Impor Beras 2,48 Juta Ton Dipertanyakan
Tahun 2003 Indonesia Kekurangan Beras 4,65 Juta Ton
Harga Dasar Gabah Naik 15%
Bantuan Beras Walubi Ada yang Salah Alamat

 
Berita sulawesi Lainnya

Pembela Terdakwa Penyerang Desa Beteleme Tolak Kesaksian
(Rabu, 28/04/2004 | 14:49 WIB)
Ambon Mereda
(Rabu, 28/04/2004 | 14:22 WIB)
Ketegangan di Ambon Meluas
(Rabu, 28/04/2004 | 12:17 WIB)
Gubernur Minta Status Padi Cina Tidak Dipersoalkan
(Selasa, 27/04/2004 | 16:01 WIB)
Selama 3 Bulan Aparat di Poso Sita 168 Bom
(Selasa, 27/04/2004 | 14:58 WIB)
Grup Artha Graha Menanam Padi Ilegal?
(Senin, 26/04/2004 | 17:46 WIB)
Polisi Tahan Delapan Warga Filipina
(Senin, 26/04/2004 | 14:58 WIB)
Ribuan Mahasiswa Makassar Tuntut Peradilan HAM
(Sabtu, 24/04/2004 | 14:50 WIB)
Lagi, Kadishut Muna Kabur dari Sel Rutan
(Jum'at, 23/04/2004 | 17:51 WIB)
Akibat Penggeledahan Warga Poso Resah
(Rabu, 21/04/2004 | 14:00 WIB)

Index Berita





 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data