|
Sulawesi Tengah
Masyarakat Sulawesi Tengah Tolak PT INCO
07 Oktober 2003
TEMPO Interaktif, Palu: Unjuk rasa menolak kehadiran PT Internasional Nikel Company (INCO) di Sulawesi Tengah berlangsung di dua tempat, Selasa (7/10). Sedikitnya 200 aktivis lingkungan dan hak azasi manusia melakukan jalan jarak jauh di Palu, hingga membuat macet jalanan kota sedikitnya selama 3 jam.
Demonstran bergerak dari Gelanggang Olah Raga Palu. Mereka menyusuri jalan protokol dengan membawa spanduk yang berisi penolakan total terhadap kehadiaran PT Inco. "Go To Hell", demikian tulisan salah satu spanduk mereka.
Di depan kantor Komando Resort Militer (Korem) 132 Tadulako Palu, para pengunjuk rasa berhenti sejenak melakukan orasi.
Dedy Irawan salah seorang kordinator lapangan aksi, dalam orasinya menyebutkan berbagai alasan pernolakan terhadap PT INCO. Di Sulawesi misalnya, PT INCO menguasai 220-an rubu hektar, tapi rakyat di wilayah daerah garapan PT INCO tergusur karena kemiskinan. "Selama 2001 hingga kini PT INCO diperkirakan telah meraup keuntungan Rp 12 triliun, tapi rakyat hanya kebagian debu pabrik," katanya.
Dedi yang juga Direktur Yayasan Madani ini juga mengungkapkan bahwa kehadiran PT INCO telah menimbulkan malapetaka, seperti perampasan hak ulayat rakyat sekitar area konsesi, ketidakadilan dan kerusakan lingkungan. Misalnya, warga desa Bahomotefe dan Oneputejaya di Kabupaten Morowali, yang sejak turun menurun mengandalkan hutan dan danau sebagai sumber penghidupan, tapi diklaim menjadi milik PT INCO. Masyakat di dua desa tersebut dipaksa hengkang, dengan ganti rugi yang tidak layak.
Lebih jauh, Aristan, kordinator koalisi aksi yang berorasi di depan Markas Kepolisian Daerah --yang berhadapan dengan kantor gubernur Sulteng--, menyatakan kehadiran PT INCO tidak hanya memicu konflik tanah, tapi juga kerusakan lingkungan.
Selain Di Palu, di ibukota kabupaten Morowali provinsi Sulteng (500 kilometer dari kota Palu) juga berlangsung aksi yang sama. Harley Direktur Wahana Lingkungan Hidup Sulteng yang terjun langsung memimpin massa menyebutkan sekitar 500 massa dari desa Bohodopi, Oneputejaya dan warga Kolonodale menggelar aksi unjuk rasa di depan kator Dewan Perwakilan Rakyat Daerah setempat.
Darlis - Tempo News Room
|