TEMPO Interaktif, Palu: Ancaman penyebaran Human Immune Virus (HIV) di Sulawesi Tengah kian mencemaskan. Jumlah pengidapnya terus bertambah, dari 5 pada Agustus 2002 menjadi 8 pada Mei 2003. Demikian diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah, Natsir Borman, kepada wartawan di Palu, Senin (9/6).
Natsir mengatakan, dari persentase perkembangannya, kasus HIV di Sulteng meningkat lebih 150 persen diakibatkan oleh banyak faktor, terutama tingginya mobilitas penduduk dari provinsi endemik HIV/AIDs.
Selain itu, Natsir menambahkan, percepatan penularan disebabkan oleh kondisi kehidupan sebagian masyarakat setempat yang berisiko tinggi dengan maraknya praktek 'esek-esek', serta semakin banyaknya pengguna narkoba.
Kasus-kasus HIV yang ditemukan di Kota Palu dan Kabupaten Donggala banyak ditemukan pada kelompok masyarakat berisiko tinggi seperti pekerja seks komersial, pengguna narkoba, pekerja panti pijat, sopir angkutan umum, dan tukang ojek.
Natsir meminta semua komponen masyarakat di daerahnya
agar proaktif mencegah penularan virus HIV, dengan
cara antara lain berusaha menjauhkan diri dari
pergaulan seks di luar nikah serta menghindari narkoba.
Dinas Kesehatan Sulteng hingga kini terus berupaya
melanjutkan program mengambilan darah bagi kelompok
yang berisiko tinggi tertular HIV, pekerja seks, pecandu
narkoba, tahanan, dan narapidana. "Sampel darah
sebagian di antara mereka sudah berhasil diperoleh,
dan kini dalam proses penelitian di laboratorium rumah
sakit dan Depkes," katanya.
Kasus HIV ditemukan pertama kali di Sulteng pada
Agustus 2002 oleh Dinas Kesehatan setempat setelah
memeriksa sampel dari lebih 300 kantong darah milik
pekerja seks beroperasi secara liar di Kota Palu. Dari
hasil pengujian medis di laborarium, terdapat
tiga sampel yang positif tertular HIV.
Muhammad Darlis – Tempo News Room