TEMPO Interaktif, Jakarta:Ledakan di tempat Kongres II Umat Islam Sulawesi Selatan di Makassar disebabkan bom rakitan dengan daya kekuatan rendah (low explosive), kata Kapolda Sulsel, Irjen Pol Firman Gani, Minggu (30/12) malam.
“Ada kemasan bom dengan menggunakan pipa pralon berbahan black powder. Sumber power-nya dihubungkan dengan baterai. Bom rakitan ini memakai sistem elektro,” kata Firman saat melapor lewat telepon seluler ke Kapolri, Jenderal Dai Bachtiar, dari lokasi.
Saat ini pihak Gegana Brimob Polda Sulawesi Selatan dan pihak Laboratorium Forensik masih terus memeriksa ruang makan tempat terjadinya ledakan.
Kapolda menyatakan, kemasan bom rakitan itu diletakkan dalam bungkusan nasi di dalam plastik. Setelah bungkusan nasi itu disimpan beberapa saat di ruang makan, tiba-tiba meledak. Ledakan itu sendiri tidak menyebabkan dinding gedung rusak parah. Tampak hanya kaca dinding yang pecah berantakan.
Wakil Ketua Panitia Pelaksana, HM Sirajudi, menjelaskan bahwa ada dua pihak katering yang mengantar pesanan nasi sebelum ledakan itu, yaitu Maccopa dan Tamalanrea. Selain dua perusahaan, masih ada enam perusahaan katering lain yang melayani konsumsi sekitar 2.000 peserta Kongres.
Sirajudi mengharapkan pihak Polda Sulawesi Selatan juga memeriksa ruang sidang pleno. “Ini untuk menghindari hal-hal yang kita tidak inginkan,” kata Sirajudi.
Dia mengatakan, hingga saat ini sidang pleno, yang seharusnya dilangsungkan, belum dibuka menyusul ledakan bom tersebut. Para peserta kongres, kata dia, hingga pukul 23.30 WITA belum mendapat makan malam. Pasalnya, konsumsi yang disediakan panitia masih dalam pemeriksaan aparat berwenang.
Pemantauan TNR di lokasi tampak para peserta kongres hanya bergerombol menantikan pemeriksaan yang dilakukan oleh aparat Polda Sulawesi Selatan. Menurut rencana, Kongres II Umat Islam Sulawesi Selatan ini akan ditutup oleh Wakil Ketua DPR RI, A.M. Fatwa, dan Ketua MUI, Ali Yafi, Senin (31/12). (muannas-tempo news room)