|
Papua
Pengibaran Bintang Kejora Diwarnai Bentrok
Rabu, 01 Desember 2004 | 14:51 WIB
TEMPO Interaktif, Papua: Akhirnya bendera Bintang Kejora dikibarkan kelompok yang menamakan diri Parlemen Jalanan Rakyat Sipil untuk Politik di Papua, untuk memperingati hari kemerdekaan Papua, Rabu (1/12). Sekitar 300 orang, kelompok yang dikoorninir Vilep Karma dan Yusak Pakage, mengikuti upacara pengibaran pada pukul 13.45 WIT. Prosesi pengibaran diwarnai insiden antara polisi dan massa, beberapa terluka.
Sebelumnya, aparat sempat mengambil tiang bendera pada sekitar pukul 10.00 WIT. Namun massa bertahan di lapangan Trikora, Jayapura, bahkan jumlah massa yang terdiri dari mahasiswa dan warga setempat, bertambah banyak. Hingga akhirnya, upacar pengibaran bendera Bintang Kejora dapat dilangsungkan.
Mulanya, upacara diisi dengan doa dipimpin Pendeta Bimara dan Pendeta Martin Monoa, yang dilanjutkan dengan orasi tentang Papua merdeka oleh Vilep Karma dan Jefry Pagawak. Keduanya menjelaskan sejarah kemerdekaan Papua pada 1 Desember 1961.
Setelah orasi, warga melakukan tarian waita yang merupakan tarian perang masyarakat pegunungan tengah di Papua. Sementara itu, aparat keamanan bersenjata lengkap berjaga-jaga di sekeliling lapangan.
Namun pada pukul 13.54 WIT tampak beberapa orang mengusung sebuah tiang bendera sepanjang 10 meter, dari balik rimbunan pohon pisang di belakang lapangan upacara Trikora Adipura. Tiang itu dibawa ke tengah lapangan dan di tengah-tengah massa yang sedang melakukan tarian waita.
Aparat keamanan mulai merangsek maju mendekati massa di tengah lapangan. Polisi berusaha merebut tiang bendera hingga terjadi bentrok antara polisi dengan massa. Polisi juga memberikan tembakan peringatan. Tapi tiang yang dipasangi Bintang Kejora, berhasil ditancapkan.
Dalam bentrok, jatuh tujuh korban. Mereka adalah Marten Degey, 32 tahun, mahasiswa Universitas Cendrawasih, dengan luka tembak peluru karet di lengan kiri. Beni Edo, 24 tahun, terluka di kepala terkena benturan benda keras. Felix terkena sambaran peluru di kepala. Yemerias Kayame, 24 tahun, terkena pentungan polisi di kepala. Marten Pekey, luka ringan pada bahu kiri. Sedangkan, Heni Lani, 19 tahun, keseleo di kaki kanan. Sedangkan dari pihak aparat, sekitar empat orang menderita luka ringan karena lemparan batu massa.
Setelah bentrok mereda, aparat nampak berusaha bernegosiasi dengan warga, agar menurunkan bendera. Namun warga menolaknya. Bahkan massa menyanyikan lagu kebangsaan Hai Tanahku Papua. Namun setelah sekali lagi polisi yang dipimpin Kapolresta Jayapura AKBP Moh. Son Ani meminta massa menurunkan bendera secara baik-baik, akhirnya mereka menurutinya. Bendera turun sekitar pukul 14.19 WIT. Tapi, massa tetap bertahan di lapangan.
Akhirnya polisi mendatangkan bantuan pasukan dua truk yaitu dari Brimob Papua lengkap dengan peralatan anti hura-hara. Kemudian, kedua belah pihak kembali bernegosiasi. Akhirnya, massa bubar pada pukul 15.20 WIT. Namun, aparat kepolisian masih tetap berjaga-jaga di lapangan.
Berdasarkan infomrasi yang didapat, pihak penanggungjawab Vilep Karma, Yusak Pakage dan beberapa rekannya berjumlah sekitar 10 orang dibawa ke Polresta Jayapura atas insiden yang tadi. Untuk sementara hasil pemeriksaan mereka belum dapat diketahui.
Cunding Levi - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|