|
Papua
Satu Tewas, Kelompok Bersenjata Serang Buruh di Papua
04 November 2003
TEMPO Interaktif, Jayapura: Kelompok bersenjata tak dikenal menyerang Desa Ugimba, Distrik Sugapa, Kabupaten Paniai, Papua, pada Senin (3/11), sekitar pukul 05.00 WIT. Serangan yang dilakukan oleh sekitar 10 orang itu mengakibatkan tewasnya satu orang, yaitu Bangke, buruh bangunan asal Toraja, yang terkena tembak di bagian kepala.
Kelompok bersenjata ini menyerang delapan buruh bangunan dan dua anggota Kepolisian Resort Enarotali. Nama-nama yang diserang adalah Bangke, Kondo, Sulaeman, Panggalo, Yohanes, Sondak, Nuwung, Rangga. Sementara itu Brigade Polisi II Hendrik Balalembang, luka tembak di lutut dan Brigade Polisi Dua Listoyo Wardoyo, diserang saat tidur lelap.
Kemungkinan besar --dilihat dari asal daerahnya-- penyerang adalah bagian dari kelompok Titus Murib.
Menurut keterwangan Wakil Kepala Polisi Daerah Papua, Brigadir Jenderal Polisi Tommy Jacobus kepada wartawan, Selasa (4/11), ketika serangan terjadi, semua korban sedang tidur. Mereka sedang menyelesaikan proyek pemukiman dan sekolah di distrik pemekaran Ugimba, yang jaraknya sekitar satu hari satu malam dari Distrik Sugapa di Kabupaten Paniai tersebut untuk menyelesaikan proyek pemukiman dan sekolah. "Memang saat itu sempat terjadi perlawanan dari pihak yang diserang," jelas Tommy yang baru menerima kabar penyerangan subuh itu kemarin sore.
Listoyo berhasil menyelamatkan Hendrik dan dua korban buruh lainnya yang mengalami luka ringan, yakni Sulaeman dan Kondo. "Maka Bripda Listoyo pun mencari bantuan dari masyarakat dan berhasil mengevakuasi ketiga korban tersebut, dari Distrik Sugapa ke Rumah Sakit Umum Nabire," ujarnya.
Selain itu, Tommy juga mengungkapkan bahwa ada sekitar empat orang buruh yang hingga saat ini keberadaan mereka belum diketahui, antara lain Yohanes, Sondak, Nuwung, dan Rangga.
Sementara itu, Kepala Polisi Resort Paniai, Ajun Komisaris Besar Polisi Moch Son Ani dan Komandan Komando Distrik Militer Nabire, tokoh adat dan tokoh masyarakat saat ini sedang menuju ke tempat kejadian perkara. Perjalanan dari Distrik Sugapa ke Desa Ugimba, hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama satu hari satu malam. Jalan yang dilewati mendaki dan setapak, serta berkabut, karena sering turun hujan. "Pencarian buruh yang hilang, akan sulit," ungkap Tommy.
Masih menurut Tommy, di tempat kejadian perkara ditemukan beberapa selongsong peluru, yang diduga dari senjata Mouser, Pistol FN dan senjata M16. "Ini baru dugaan sementara, karena belum ada pemeriksaan lebih lanjut," katanya.
Tommy menduga, motif penyerangan adalah logistik. Kelompok separatis bersenjata itu kehabisan persediaan makanan. Hal itu tampak, persediaan makanan dan peralatan para buruh tak bersisa. "Biasanya kelompok separatis bersenjata itu tidak akan melakukan penyerangan, jika tidak kehabisan bahan makanan ataupun uang," katanya.
Untuk itu, Tommy menghimbau agar kelompok separatis turun gunung. "Kalaupun kekurangan makanan dan sebagainya, marilah kita duduk bersama dan menikmati segala apa yang ada di tanah Papua ini, agar jangan terjadi baku hamtam lagi. Tetapi jika ingin menunjukkan eksistensi dirinya, maka mereka pasti akan berhadapan dengan para aparat," katanya.
Pos penjagaan keamanan di Kabupaten Paniai, daerah dengan tambang emas, memang relatif kurang. Menurut Tommy, akan ada penambahan anggaran untuk pengamanan di Kabupaten Paniai, di tahun anggaran 2004.
Lita Oetomo - Tempo News Room
|