|
Warga NTT Berebut Air Dengan Ternak
Kamis, 14 Juli 2005 | 14:34 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Krisis air bersih mulai melanda sebagian wilayah Nusa Tenggara Timur. Lebih dari separuh desa di Timor Barat, Alor dan utara Flores mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk konsumsi rumah tangga. Bahkan warga di Desa, Pitay, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, terpaksa berebutan air dengan ternak piaraan seperti kambing, sapi, kerbau, dan babi.
Salah satu sumur umum di kompleks gereja Pitay, tak mampu melayani kebutuhan warga. “Hanya sekali timba, airnya langsung kering. Sehingga masyarakat harus membeli air seharga Rp5000 dengan menggunakan gerobak dorong,” kata Lelin Itha Ndun, pendeta pada gereja tersebut, Kamis (14/7).
Sebagian warga lainnya harus berjalan kaki lebih dari tiga kilometer untuk mendapatkan air. Sementara harga air pertangki ukuran 5000 liter, mencapai Rp 65.000 untuk dalam kota, dan Rp 100.000 untuk luar kota.
Krisis air juga melanda Kota Kupang. Hampir sebagian besar warga yang selama ini mengkonsumsi air bersih dari pelayanan PDAM mulai mengeluh. Manajemen PDAM Kupang terpaksa membagi jadwal pelayanan bagi warga karena debit air di semua sumber air yang dikelola PDAM berkurang drastis.
Di Kelurahan Fatubesi, Nunleu, Naikoten II, Naikoten I dan Oebobo, misalnya, pelayanan PDAM hanya berlangsung dua kali dalam seminggu. Itu pun dibatasi hanya dua-tiga jam pada waktu malam hari. Sedangkan di Kecamatan Alak, Kota Kupang, warga harus membeli air dari tangki dengan harga mencapai Rp65.000-Rp75.000.
Kesulitan air bersih juga mulai terasa di bagian Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara dan Belu. Sementara di Kecamatan Amarasi Timur, amarasi barat, Amarasi Selatan dan Amarasi, Kabupaten Kupang, sebagian tanaman pertanian dan perkebunan warga mulai terlihat layu. Jems de Fortuna
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|