|
Gunung Rinjani Status Waspada
Sabtu, 18 Juni 2005 | 15:04 WIB
TEMPO Interaktif, Lombok:Gunung Rinjani ditetapkan status waspada terhitung Selasa (14/6) lalu. Para pendaki diminta tidak mendekati atau menyeberangi danau Segara Anak dan gunung Baru Jari. Direktur Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (VMBG) di Bandung Yoseana OP Siagian telah menugaskan tenaga ahli untuk melakukan pemantauan dan evaluasi aktivitas Rinjani.
Penetapan status waspada tersebut berdasar rekaman gejala peningkatan kegiatan Rinjani berupa meningkatnya jumlah gempa vulkanik dan tremor yang disusul terjadinya letusan di dalam kaldera Gunung Baru Jari. "Maka statusnya dinaikkan dari aktif normal menjadi waspada," ujar Yosenana dikutip Kepala Bagian Humas Protokol Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Barat, Lalu Gita Aryadi, Sabtu (18/6). Karena itu, Pemerintah daerah NTB melakukan kordinasi untuk pengamanan wisatawan pendakian gunung Rinjani.
Direktur VMBG Yoseana OP Siagian melalui suratnya tanggal 15 Juni 2005 yang dikirimkan ke Direktur Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral di Jakarta dan tembusannya diterima Gubernur NTB, bahwa selama lima hari (1-5 Juni) terekam 20 kejadian gempa tektonik jauh dan satu gempa tektonik lokal.
Gempa vulkanik dalam mulai terekam pada 6 Juni sekali kejadian dengan amplitudo maksimum dua milimeter. Dua hari kemudian, 8 Juni terekam jenis gempa hembusan sekali kejadian diikuti tremor vulkanik dengan amplitudo satu milimeter. Peningkatan kegempaan semakin nyata pada 11 Juni yang terekam jenis gempa vulkanik dalam dua kejadian dan dua kali tremor vulkanik.
Dua hari kemudian, 13 Juni terekam tiga kali gempa vulkanik dalam, lima kali gempa vulkanik dangkal, serta sekali gempa hembusan. Peningkatan kegempaan ini berlanjut dengan terekamnya jenis gempa letusan sekali kejadian dengan amplitudonya maksimum 35 milimeter. Namun disebutkan pula bahwa secara visual asapnya tidak kelihatan dari pos pengamatan. Tinggi asap kurang dari 600 meter di atas puncak Gunung Baru Jari dan Danau Segara Anak.
Rinjani mulai aktivitas letusannya September 2004 berlangsung hingga Oktober 2004 lalu. Yaitu berupa letusan samping sehingga statusnya siaga dan kemudian diturunkan menjadi waspada pada bulan Januari 2005. Dari hasil pengamatan visual dan kegempaan aktivitas vulkanik Rinjani dalam kondisi normal sehingga pada bulan Pebruari 2005 lalu kegiatannya diturunkan menjadi aktif normal.
Supriyantho Khafid
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
![Kameraman SCTV dan anak-anak kecil yang berkumpul setelah gempa di Bengkulu, Juli 2000 [TEMPO/ Rully Kesuma; 30d/394/2000; 2000/07/26].
<br>
Dimuat majalah TEMPO 20010422-102](/hg/photostock/2005/04/05/s_30d39407_high_thumb.jpg) |
![Petugas kesehatan memeriksa tekanan darah seorang ibu korban gempa bumi di tenda-tenda darurat di Bengkulu, Juli 2000. [TEMPO/ Rully Kesuma; 30d/394/2000; 2000/07/26].](/hg/photostock/2005/04/05/s_30d39406_high_thumb.jpg) |
|
|
| Korban Gempa Bumi Bengkulu
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|