Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Kanwil Depag Sebar 1214 Penyuluh Agama di NTB
Kamis, 14 April 2005 | 14:01 WIB

TEMPO Interaktif, Mataram :Kantor Wilayah Departemen Agama NTB, menurunkan 1214 tenaga penyuluh agama di sembilan kabupaten/kota di provinsi ini. Langkah ini merupakan respon terhadap sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTB yang akan mengidentifikasi sejumlah praktik aliran sesat di Pulau Lombok.

"Kami sudah menyebar para penyuluh agama," ujar ujar staf Bidang Pengembangan Pondok Pesantren dan Penerangan Agama Islam (Pekapontren dan Penamas) Kanwil Depag NTB, Lalu Ayub Saleh, di Mataram, Kamis (14/4).

Tenaga penyuluh agama akan ditempatkan di desa-desa dan kecamatan yang dikoordinir Kantor Urusan Agama di tingkat kecamatan. Tiap penyuluh memiliki sedikitnya empat kelompok pengajian dengan anggota minimal 20 orang. Sebagian besar penyuluh berada di Lombok dan di Kabupaten Bima.

Penyuluh yang bertugas di Kanwil Depag 111 orang, Mataram 115 orang, Lombok Barat 150 orang, Lombok Tengah 170 orang, Lombok Timur 156 orang, Sumbawa/Sumbawa Barat 172 orang, Dompu 114 orang dan di Bima 226 orang. Total 226 orang. Jumlah itu belum termasuk pegawai tetap tenaga fungsional-sebanyak 80 orang.

Menurut Ayub, khusus Lombok Barat dan Lombok Tengah, akan mendapat tambahan penyuluh. Alasannya, praktik aliran sesat lebih banyak berada di Lombok Barat. "Ya seperti (dukun yang berkedok) guru ngaji dan sebagainya."

Praktik aliran sesat, misalnya terjadi di Kecamatan Gangga, Lombok Barat, 1993. Seseorang bernama Rudi Hartawan, membuka praktik dukun dan guru ngaji dengan ajaran Serat Centani (surat cinta). Rudi diadili massa tapi berhasil diselamatkan aparat
keamanan. Pengadilan Negeri Mataram menghukumnya dengan pidana penjara delapan tahun karena Rudi dinyatakan terbukti melakukan tindakan asusila.

Praktik dukun merangkap guru ngaji juga marak pada 1990-an. Pihak MUI Lombok Barat ketika itu mencatat ada sekitar tujuh aliran sesat. Praktiknya sebagaian besar di Kecamatan Sekotong, Kecamatan Bayan, Kecamatan Gangga, Kecamatan Gunungsari dan Kecamatan Lingsar.

Sebelumnya, Sekretaris MUI NTB, Tuan Guru HajiHazmi Hamzar mengaku prihatin akan kembali munculnya praktik aliran sesat yang menggunakan simbol-simbol islam. Menurutnya, praktik seperti itu tidak bisa ditoleransi karena jelas merusak citra Islam. "Kami akan mengidentifikasi ulang praktik aliran sesat," ujarnya di Mataram, Jumat (8/4) pekan lalu

Hazmi Hamzar tidak memungkiri, munculnya praktik aliran sesat ini karena pengaruh sejumlah dukun yang mengaku-ngaku sebagai guru ngaji. Biasanya, mereka berpraktik di daerah-daerah yang tingkat pendidikannya rendah. "Siapa yang tidak percaya jika
awalnya mengaku sebagai guru ngaji, tapi ternyata seorang dukun. Ini jelas tidak benar," katanya. sujatmiko



INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Pemerintah AS Ambil Alih Manajemen Fannie Mae dan Freddie Mac
Capello Belum Puas dengan Cole
Daya Beli Petani Nusa Tenggara Barat Anjlok
Paraguay Kokoh di Puncak, Argentina Puas
Gempa 5,3 SR Landa Laut Maluku  

<< April,2005>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data