|
Balai Karantina Lembar Sita Ratusan Itik
Senin, 04 April 2005 | 14:52 WIB
TEMPO Interaktif, Mataram:Balai Karantina Kelas II Lembar, Nusa Tenggara Barat, menyita sedikitnya 500 ekor itik saat akan diseberangkan dari Pelabuhan Padangbai, Karang Asem, Bali ke Pelabuhan Lembar. Petugas menyita unggas itu berdasarkan SK Gubernur NTB tahun 2004 tentang proteksi hewan unggas di provinsi ini atas merebaknya penyakit flu burung.
Rencananya, itik yang dimuat dalam truk yang dikemudikan Bambang itu dibawa dari Mojokerto, Jawa Timur dan akan dikirim atas permintaan seorang pengusaha ke Praya, Kabupaten Lombok Tengah. "Dasarnya jelas, SK Gubernur NTB yang belum dicabut," ujar I Ketut Darwita, Kepala Balai Karantina II Lembar NTB, di Kabupaten
Lombok Barat, Senin (4/4) siang.
Darwita mengatakan telah berkonsultasi dengan Dinas Peternakan NTB. Opsinya mengembalikan ratusan itik itu atau akan memusnahkan. "Mungkin akan dimusnahkan kalau perlu," ujarnya. Opsi lainnya, mengembalikan itik itu karena pemiliknya memiliki dokumen lengkap. Menurut Darwita, itik-itik yang disita sebagian telah mati.
Darwita masih menunggu hasil penelitian Dinas Peternakan NTB, tentang kepastian serangan flu burung di daerahnya. Jika pemeriksaan menunjukkan flu burung, itik itu jelas akan dimusnahkan di tempat.
Dinas Peternakan NTB telah memeriksa sejumlah unggas hasil penyitaan Balai Karantina
kelas II Lembar. Kepala Sub Dinas Bina Kesehatan Hewan, Dinas Kesehatan Pemprov NTB, A. Rachman Abidin mengatakan, wajib hukumnya menahan unggas yang akan masuk ke NTB. "Sudah banyak contohnya, flu burung dibawa ternak kiriman dari luar NTB," ujar Rachman di kantornya.
Cara lain mencegah penularan flu burung adalah dengan menyebar vaksin ke sejumlah daerah di NTB. Vaksin yang disebar diperkirakan cukup untuk 30 ribu unggas di antaranya di Mataram, Lombok Barat, Lombok Timur dan sebagian Sumbawa dan Bima. Hanya, kata Rachman, kekebalan unggas setelah divaksin hanya bertahan sekitar enam bulan.
Di Mataram dan Sumbawa, flu burung masuk dalam kategori endemis dan yang meningkat pada akhir 2004. "Sekarang sudah mereda. Tapi proteksi unggas, terutama antar-pulau tetap dilakukan," kata Rachman. sujatmiko
INDEKS BERITA LAINNYA :
|