|
Nusa Tenggara
Walhi Minta Penanganan Bencana Utamakan Survival
Selasa, 01 Maret 2005 | 12:18 WIB
TEMPO Interaktif, Mataram:Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Longgena Ginting minta penanganan bencana lebih bertumpu pada survival. Sebab, sekadar membantu para korban yang tidak mampu adalah paradigma yang tidak tepat.
Menurut dia, survival berarti para korban yang berkepentingan memulihkan diri sendiri. Mereka harus dilibatkan dalam perencanaan dan keputusan, sebab yang paling tahu pemulihan adalah dirinya sendiri. Dalam hal ini, partisipasi penanganan bencana mutlak dan tak bisa diabaikan.
Ia mengungkapkan, bencana tsunami di Maumere, Nusa Tenggara Timur, pada 1992
memerluhkan waktu pemulihan 10 tahun. Warga satu dusun di Bahorok, Sumatera Utara, selama dua tahun masih tinggal di barak-barak. Padahal, uang Rp 75 miliar ada di Departemen Pekerjaan Umum. “Artinya itu tadi, tidak ada partisipasi. Harusnya merekalah yang memulihkan dirinya sendiri,” ujar Longgena kepada Tempo di Mataram, Selasa (1/3) pagi.
Ia juga mengkritik pemerintah yang tidak memberikan pendidikan kepada warga tentang kemungkinan terjadinya bencana alam, padahal Indonesia merupakan daerah bencana. Apabila ada pendidikan soal bencana, jumlah korban bisa ditekan.
Data yang dimiliki Walhi menyebutkan, gempa dan tsunami di Aceh, 26 Desember 2004, menyebabkan 150 ribu jiwa meninggal, 140 ribu jiwa hilang, 27.520 rumah hancur, dan 441 ribu jiwa terpaksa hidup di pengungsian. Selain itu, tsunami mengakibatkan 10 ribu hektare hutan mangrove rusak, 23.330 hektare sawah rusak, 54 ribu nelayan terkena dampak tsunami dan 70 ribu hektare terumbu karang hancur.
Akibat bencana tersebut, 34 orang aktivis Walhi Aceh hilang dan 18 sekretariat daerah rusak. Sedangkan para aktivis yang selamat juga menghadapi persoalan kehilangan anggota keluarga dan rumahnya. (Supriyantho Khafid)
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|