|
Nusa Tenggara Timur
Warga Korban Gempa Alor Blokir Jalan
Selasa, 22 Pebruari 2005 | 14:58 WIB
TEMPO Interaktif, Kupang: Ratusan warga korban gempa bumi Alor dari desa Welai Selatan dan Welai Barat menggelar aksi demonstrasi di gedung DPRD setempat, Selasa (22/2) serta memblokir ruas jalan yang menghubungkan Kalabahi-Alor Timur. Penyebab aksi tersebut adalah keinginan warga yang menuntut pemerintah memberikan ganti rugi akibat kerusakan gempa dalam bentuk uang tunai senilai Rp 10 juta setiap keluarga dan bukan dalam bentuk bangunan semi parmanen seperti yang dijanjikan pemerintah.
Ketua DPRD Alor Jhon Blegur, yang dihubungi melalui
telepon selulernya mengatakan, ratusan warga tersebut tiba di gedung DPRD pukul 09.15 Wita, lalu mereka menggelar orasi.
Beberapa tuntutan yang mereka sampaikan seperti meminta
pemerintah menghentikan pembangunan rumah tahan
gempa yang sedang dibangun menyerahkan dananya
kepada warga, yang akan mengerjakan pembangunan secara swadaya. "Tidak mungkin pemerintah menyetujui permintaan mereka, karena dana yang digunakan adalah bantuan pemerintah pusat dan yang mengelola adalah pemerintah provinsi bukan kabupaten," kata Blegur. Penegasan sama disampaikan Bupati Alor Ans Takalapeta.
Rumah yang dibangun yakni tipe 36 dengan konstruksi khusus tahan gempa di 67 desa yang tersebar di tujuh kecamatan. "Karena dana yang tersedia tidak mencukupi maka dalam pengerjaanya, masyarakat diharapkan berpartisipasi dengan cara menyediakan bahan lokal," kata Takalapeta.
Para demonstran menilai rumah tahan gempa yang dibangun
sangat buruk karena menggunakan kayu kualitas kelas dua
dan tiga serta dikerjakan asal jadi.
Merasa tuntutan mereka tidak dipenuhi, ratusan warga yang
semula tenang, berubah emosional. Mereka menutup jalan di Desa Habelang, Kecamatan Alor Barat Daya, sekiar 4 kilometer dari Kalabahi, ibukota Kabupaten Alor.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum NTT, Piet Djami Rebo, yang
dihubungi sebelumnya, mengatakan dana yang sudah
diserahkan pemerintah pusat ke rekening gubernur dan
bupati Alor hanya Rp 60 miliar. Dana tersebut akan
digunakan untuk membangun kembali 1.300 unit rumah
penduduk, 28 gedung sekolah serta perbaikan saluran
irigasi dan jaringan air bersih.
Sedangkan rumah penduduk yang rusak total saat gempa
5.000 unit lebih dan rusak ringan mencapai belasan
ribu unit. Namun pemerintah pusat hanya menganggarkan pembangunan untuk 1.300 unit rumah, sedangkan pembangunan 2.700 rumah lainnya masih menunggu dana dari APBN, APBD Provinsi NTT dan APBD Kabupaten Alor.
Setiap unit rumah tahan gempa yang semula dianggarkan Rp 14 juta setiap unit, dalam kenyataanya hanya disetujui Rp 10 juta dan diharapkan masyarakat korban gempa dapat
memberikan bantuan berupa bahan lokal.
Jems de Fortuna
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
|
![Perumahan BMP yang longsor akibat aliran kali Kreo yang dibelokan oleh pengelola lapangan golf Manyamar, Jakarta, 1996 [TEMPO/ Arief A. Kuswardono; R1A/235/2001; 20010330].](/hg/photostock/2005/01/31/s_R1a23505_high_thumb.jpg) |
![Tumpukan bantuan untuk korban gempa bumi diturunkan dari helikopter di Nusa Tenggara Timur (NTT), 1993. [TEMPO/ Hidayat SG; 14D/456/1993; 20021002].](/hg/photostock/2005/01/14/s_14D45604_high_thumb.jpg) |
|
|
| Bantuan Korban Gempa Bumi
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|